Palapanews.com- Praktik lancung pengoplosan gas subsidi diduga masih marak di Kota Tangerang. Ini berdasarkan kesaksian pengguna elpiji subsidi ukuran 3 Kilogram (Kg) yang mengaku isi tabung gas tak sesuai.
“Gas (3 Kilogram) yang saya beli, cepet banget habis. Tidak seperti biasanya,” kata Wahyudi, salah seorang pedagang yang ditemui di Karang Tengah, Kota Tangerang.
Biasanya, elpiji subsidi yang biasa disebut tabung melon itu habis dalam waktu empat hari. Namun, Wahyudi mengaku saat ini bisa dalam waktu dua hari sudah habis.
“Padahal pemakaian sama, nggak berubah. Sepertinya memang takaran yang berkurang,” tandasnya.
Sementara itu, dari hasil penelusuran dan informasi yang dihimpun lapangan, salah satu gudang yang berlokasi di wilayah Kelurahan Parung Jaya RT 02/03 Kecamatan Karang Tengah, diduga masih digunakan sebagai tempat praktek pengoplosan gas bersubsidi.
Di lokasi, terlihat puluhan truk mengangkut tabung gas ukuran 3, 12 dan 50 Kilogram masuk ke kawasan gudang setiap harinya hingga tengah malam. Padahal, di lokasi tidak terdapat plang resmi Pertamina.
Selain itu, keberadaan lokasi gudang yang cukup terpencil juga membuat dugaan praktek pengoplosan gas bersubsidi tersebut, hingga saat ini belum tercium aparat kepolisian.
“Ya memang setiap hari udah biasa sering keluar masuk kalau truk gas ke sini si mas. Ya seringnya si kalau saya lihat saat malam hari,” ujar salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Sebelumnya, Subdit Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya membongkar praktik curang mafia pengoplos gas di wilayah Tangerang dan Jakarta Timur. Ada empat gudang di dua wilayah itu yang digerebek petugas.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan ada enam orang yang ditangkap dalam pengungkapan itu. Mereka, yakni ADN, LA, RSM, KND, KSN dan YEP dan keenamnya sudah ditetapkan tersangka.
“Jadi ini pengungkapan kasus oplosan gas. Dari keterangan ini dinamakan oplosan dokter istilahnya karena dia menyuntik seperti dokter,” kata Argo. (plp)
