Nahdlatul Ulama Besar Karena Gerakan

oleh -
Nahdlatul Ulama. (ist)

Palapanews.com- Nahdlatul Ulama (NU) besar bukan karena hasil warisan, tetapi karena gerakan, maka bergeraklah. Demikian dikemukakan penggiat muda NU, Maman Darmansyah, merespon aksi bully yang dilakukan sejumlah pihak selama ini, di media sosial (medsos), efek dari dinamika politik pilgub Jakarta.

“NU lahir sebagai jawaban atas penindasan kolonial Belanda kala itu. NU merupakan organisasi keagamaan dan gerakan, tidak etis mengatasnamakan NU hanya untuk kepentingan hegemoni politik,” katanya dalam siaran pers yang diterima Palapanews.com, Senin (12/12/2016).

Ia setuju dengan apa yang dilakukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ma’ruf Amin, yang berkonsolidasi menyambangi para ulama kultur NU, dan pengasuh pondok pesantren yang digelar di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kegiatan bertajuk halaqah dan silaturrahim menjawab kegelisahan warga NU terhadap sejumlah partai politik yang menganggap mereka merupakan representasi dari politik NU. Mengunjungi kyai kultur merupakan tradisi yang tidak boleh hilang di struktural NU.

Kita tidak boleh melupakan kyai-kyai kampung (kultur), yang sebenarnya menurut Maman-demikian ia disapa, jelas lebih menghargai kehormatan NU sebagai organisasi keagamaan di satu sisi, dan organisasi sosial kemasyarakatan di sisi yang lain.

“Banyak yang keasyikan menjadi selebritis, sibuk menjajakan NU sebagai komoditas politik dan ekonomi. Memperkosa dasar pemikiran (khittah), luput memperhatikan kebijakan penguasa yang bisa saja disorientasi kepentingan rakyat,” tegasnya.

Ia melihat, saat ini begitu mudahnya pengaruh politik subjektif masuk ke ranah keagamaan pesantren, yang notabene katanya NU. Pertanyaannya apakah ini menjadi bukti bahwa telah terjadi pergeseran konstruksi berfikir paraa tokoh NU.

Ini juga yang kata dia, membuat dikotomi di kalangang nahdliyyin tentang ke-NU-an mereka. “NU struktural dan NU kultural, NU politik dan NU mistik, NU perjuangan dan NU batu loncatan. Padahal NU ya NU titik.” (one)

Komentar Anda

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.