Palapanews.com- Sebanyak 147 siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 33 Tangerang Selatan mengikuti kegiatan outing class berbeda dari biasanya di Kandank Jurank Doank, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (21/5/2026).
Tidak sekadar belajar di luar kelas, para siswa diajak langsung praktik membuat pizza bersama chef profesional dari Danish Culinary School.
Kegiatan tersebut berlangsung meriah karena seluruh siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membuat kreasi pizza masing-masing.
Mereka mendapatkan pendampingan langsung dari Chef Ranu yang membimbing proses pembuatan pizza mulai dari tahap awal hingga siap disajikan.
Program ini menjadi pengalaman baru sekaligus sarana pengembangan keterampilan siswa di bidang kuliner. Selain belajar teknik memasak dasar, para peserta juga dilatih bekerja sama, membangun kreativitas, dan meningkatkan rasa percaya diri.
Belajar Memasak Jadi Cara Baru Tingkatkan Life Skill Siswa
Owner LPK Danish Culinary School, Taufik Hidayat Syah, mengatakan konsep outing class kali ini sengaja dibuat berbeda agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan.
Menurutnya, kegiatan outing class selama ini identik dengan kunjungan ke museum atau tempat edukasi formal. Namun kali ini, para siswa justru diajak terjun langsung ke dunia memasak melalui menu favorit anak muda, yakni pizza.
“Biasanya outing class dilakukan ke museum, tapi kali ini kami mengajak siswa memasak bersama. Mereka belajar membuat pizza dari awal dengan pendampingan chef profesional,” ujar Taufik.
Ia berharap pengalaman tersebut mampu membuka wawasan siswa terhadap dunia kuliner yang kini memiliki peluang besar sebagai profesi maupun usaha mandiri.
Taufik juga menilai keterampilan memasak dapat menjadi bekal penting bagi siswa setelah menyelesaikan pendidikan sekolah. Dengan kemampuan yang dimiliki, para siswa diharapkan dapat menciptakan peluang usaha sendiri di masa depan.
Sekolah Fokus Bentuk Karakter dan Keterampilan Praktis
Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas 33 Tangerang Selatan, Gina Intana Dewi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembentukan life skill bagi seluruh siswa.
Ia menyebut kegiatan memasak bersama ini menjadi program life skill pertama yang dilaksanakan sekolah sebagai upaya membangun keterampilan praktis di luar pembelajaran akademik.
“Program ini menjadi langkah awal pembentukan life skill siswa. Ke depan akan ada lebih banyak kegiatan variatif yang disesuaikan dengan potensi dan minat mereka,” kata Gina.
Lebih lanjut, Gina menjelaskan pengembangan bakat dan minat siswa nantinya juga akan menjadi bagian dari penilaian kokurikuler sekolah. Dengan begitu, siswa tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga memiliki kemampuan praktis yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Dik Doank Beri Motivasi tentang Tahapan Kehidupan dan Kunci Sukses
Pendiri Kandank Jurank Doank, Dik Doank, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia memberikan motivasi kepada para siswa mengenai tahapan kehidupan anak hingga remaja serta pentingnya peran guru sebagai sahabat bagi peserta didik.
Dalam pesannya, Dik Doank menjelaskan bahwa setiap fase usia memiliki proses pembelajaran yang berbeda. Ia juga mengingatkan agar anak-anak tetap mendapatkan ruang bermain dan tumbuh sesuai tahap perkembangannya.
Selain itu, Dik Doank membagikan lima kunci menjadi pribadi hebat kepada para siswa. Menurutnya, seseorang perlu memiliki kedekatan dengan Tuhan, keahlian, kemampuan menjaga silaturahmi, kemampuan berdagang, dan keterampilan berbicara di depan publik.
Pesan tersebut mendapat perhatian dari para siswa yang antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.
Outing Class Kuliner Dinilai Efektif Tingkatkan Kreativitas Siswa
Kegiatan memasak bersama seperti ini dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan aplikatif bagi siswa. Selain meningkatkan kreativitas, siswa juga belajar mengenai tanggung jawab, komunikasi, hingga kerja sama tim.
Konsep pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning kini mulai banyak diterapkan di berbagai sekolah karena dianggap lebih efektif membangun karakter dan keterampilan siswa dibanding metode pembelajaran konvensional.
Dengan adanya kegiatan tersebut, Sekolah Rakyat Menengah Atas 33 Tangerang Selatan berharap siswa dapat lebih siap menghadapi dunia kerja maupun menciptakan peluang usaha mandiri sejak usia muda. (nad)
