Palapanews.com- Henti jantung mendadak masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Kondisi ini bisa menimpa siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Karena itu, kesiapan masyarakat awam dalam memberikan pertolongan pertama menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa.
Hal tersebut disampaikan dr. Guiddo Ilyasa Purba dari Eka Hospital Heart Arrhythmia Clinic dalam edukasi kesehatan bertema Basic Life Support (BLS), Jumat (26/9). Menurutnya, rantai keselamatan atau chain of survival yang digariskan American Heart Association (AHA) menekankan peran saksi di lokasi kejadian.
“Keberhasilan terbaik datang dari orang pertama di tempat kejadian yang berani melakukan resusitasi jantung paru (CPR), ketersediaan automated external defibrillator (AED), serta respon cepat tim medis. Faktor-faktor ini yang menentukan peluang hidup pasien henti jantung,” jelas dr. Guiddo.
Ia menekankan, langkah awal yang harus dilakukan adalah memastikan keamanan penolong, korban, dan lingkungan. Setelah itu, periksa respons korban, nadi, dan pernapasan. Bila korban tidak sadar dan tidak bernapas, segera lakukan kompresi dada.
Kompresi yang efektif dilakukan dengan posisi tubuh tegak lurus, kedua tangan ditumpuk di tengah dada korban, lalu tekan sedalam 5–6 sentimeter dengan kecepatan 100–120 kali per menit. “Dorong keras dan cepat, minimalkan jeda lebih dari 10 detik, dan biarkan dada kembali mengembang penuh di antara kompresi,” kata dr. Iddo -sapaan dr. Guiddo.
Metode hands-only CPR atau hanya kompresi dada dinilai efektif pada menit-menit awal henti jantung orang dewasa. Namun, pada kasus anak-anak, bayi, korban tenggelam, atau resusitasi jantung paru yang berlangsung lama, bantuan napas tetap diperlukan. Pola yang dianjurkan adalah 30 kompresi diikuti dua kali bantuan napas.
Selain itu, penggunaan AED juga krusial. Setelah memastikan korban tidak sadar dan tidak bernapas, perangkat harus segera dipasang sesuai instruksi. Bila AED menganjurkan kejut listrik, tombol harus ditekan sebelum melanjutkan kompresi.
“Kesadaran dan keberanian masyarakat untuk bertindak bisa menyelamatkan orang terdekat. Jangan ragu, karena tindakan cepat jauh lebih baik daripada tidak bertindak sama sekali,” pungkas dr. Guiddo. (red)
