Palapanews.com- Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memproyeksikan sektor ekonomi hijau (green jobs) akan menyerap sekitar 3,88 juta tenaga kerja pada 2026. Namun, peluang besar tersebut dinilai harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja agar tidak kalah bersaing di tengah transformasi industri dan digital.
Proyeksi itu tertuang dalam Outlook Ketenagakerjaan 2026 yang disusun Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang Ketenagakerjaan). Kajian tersebut memetakan peluang sekaligus tantangan pasar kerja nasional di tengah pesatnya perkembangan teknologi, hilirisasi industri, hingga transisi menuju ekonomi hijau.
Kepala Barenbang Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, mengatakan Indonesia sedang berada pada momentum penting untuk mentransformasi pasar kerja menjadi lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
“Peluang kerja yang tercipta dari hilirisasi dan ekonomi hijau harus diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri. Karena itu, pengembangan keterampilan menjadi faktor yang sangat penting,” ujar Anwar dalam keterangan resminya, Senin (22/6/2026).
Selain hilirisasi industri, pertumbuhan lapangan kerja diperkirakan datang dari sektor energi baru terbarukan, ekonomi sirkular, elektrifikasi transportasi, hingga modernisasi industri.
Di balik proyeksi tersebut, Kemnaker juga menyoroti sejumlah persoalan yang masih membayangi pasar kerja nasional. Sekitar 58 persen tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal, sementara kebutuhan industri terhadap tenaga kerja dengan kompetensi digital terus meningkat.
Kajian tersebut juga mencatat baru sekitar 50 persen tenaga kerja yang memiliki literasi digital dasar hingga menengah. Padahal, kebutuhan industri diperkirakan mencapai lebih dari 80 persen tenaga kerja yang menguasai kompetensi digital.
Selain itu, persoalan skill mismatch atau ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja masih menjadi tantangan yang harus segera diatasi.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Kemnaker terus mendorong penguatan sistem pelatihan vokasi melalui revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK), pengembangan pelatihan berbasis teknologi, peningkatan kompetensi digital dan energi hijau, hingga penyelarasan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dengan kebutuhan dunia industri.
Menurut Anwar, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan menjadi kunci agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang besar yang lahir dari transformasi ekonomi dan teknologi sekaligus menciptakan tenaga kerja yang lebih kompetitif. (red)
