Daun Saga Jadi Sirup Herbal, Andalan Baru Warga Margasari Lawan Batuk

Palapanews.com- Di tengah tingginya kasus batuk akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), warga Kelurahan Margasari, Tangerang, menemukan cara sederhana namun menjanjikan. Daun saga, yang dulu hanya dikenal sebagai tanaman obat keluarga, kini diolah menjadi sirup herbal. Inovasi ini lahir dari kerja sama perguruan tinggi dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat, menghadirkan solusi kesehatan sekaligus peluang usaha baru bagi masyarakat.

Batuk hingga kini masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dikeluhkan. Data Kementerian Kesehatan 2023 mencatat prevalensi ISPA pada balita cukup tinggi. Papua Tengah menempati angka 11,8 persen, Papua Pegunungan 10,7 persen, Jawa Timur 8,8 persen, dan Banten 8,7 persen. Di Banten saja, sejak Januari hingga Juli 2023 tercatat lebih dari 520 ribu kasus ISPA, mayoritas menyerang balita. Kota Bengkulu melaporkan 18.900 kasus dengan 12 ribu di antaranya dialami anak balita. Tangerang Selatan mencatat hampir 69 ribu kasus.

Gejala batuk yang berkepanjangan bukan hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga aktivitas sehari-hari. Tidur terganggu, nafsu makan menurun, hingga konsentrasi belajar anak ikut terdampak. Pada orang dewasa, batuk menggerus produktivitas kerja. Biaya berobat dan pembelian obat semakin menambah beban keluarga. Kondisi ini membuat pengobatan herbal kian relevan sebagai pilihan alternatif.

Menjawab kebutuhan tersebut, tiga dosen Universitas Yatsi Madani Nurry Ayuningtyas Kusumastuti, S.Tr.Keb., MPH, Dr. Lastri Mei Winarni, S.ST., M.Keb, dan Ns. M. Martono Diel, S.Kep., M.Kep, melaksanakan program pengabdian masyarakat di Margasari melalui dana hibah Pemberdayaan Berbasis Masyarakat 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Mereka menggandeng KWT Margasari untuk mengolah daun saga menjadi sirup herbal.

Pelatihan dimulai dari hulu. Anggota KWT diajarkan memilih bibit unggul, menanam secara organik, hingga merawat tanaman tanpa bahan kimia berbahaya. Tahap pascapanen pun diperkenalkan, mulai dari cara memanen, mengeringkan daun agar senyawa aktif terjaga, hingga teknik penyimpanan yang tepat.

Setelah itu, KWT dilatih mengolah daun saga menjadi sirup dengan memanfaatkan teknologi tepat guna, seperti dehydrator untuk pengeringan dan grinder untuk penggilingan. Formulasi sirup dipadukan dengan pemanis alami dan diuji secara organoleptik agar rasa, warna, serta aromanya sesuai selera masyarakat.

Tak berhenti di produksi, peserta juga mendapat pembekalan tentang pengemasan dan pemasaran. Produk dikemas dalam botol higienis berlabel informatif, lalu dipasarkan melalui koperasi desa, pasar tradisional, hingga platform digital. Respon masyarakat positif. Anggota KWT merasa memperoleh keterampilan baru sekaligus peluang usaha. Sirup saga bukan hanya bermanfaat sebagai pereda batuk, tetapi juga menjadi produk unggulan desa dengan nilai ekonomi.

Sejumlah penelitian turut memperkuat dasar program ini. Ekstrak daun saga terbukti mengandung senyawa bioaktif seperti saponin, alkaloid, flavonoid, dan tannin. Penelitian Kusumastuti, Haeriyah, dan Sartika (2024) menunjukkan pemberian ekstrak daun saga berpengaruh signifikan dalam menurunkan intensitas batuk. Studi Universitas Gadjah Mada pada tahun yang sama juga menemukan manfaat serupa pada balita. Penelitian lain membuktikan sifat antibakteri daun saga terhadap Streptococcus mutans hingga Streptococcus pneumoniae, serta efek antiinflamasi yang menekan penanda peradangan seperti IL-6 dan COX-2.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih menanti. Standarisasi mutu dan dosis, uji keamanan jangka panjang, serta stabilitas produk perlu mendapat perhatian. Perizinan PIRT hingga sertifikasi BPOM juga menjadi langkah penting agar produk dapat menembus pasar lebih luas.

Selain aspek produksi, edukasi masyarakat menjadi bagian penting dari program ini. Herbal tidak boleh menggantikan layanan medis profesional, terutama bila batuk disertai gejala berat seperti sesak napas, demam tinggi, atau batuk berdarah.

Program pemberdayaan ini menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendukung kemandirian masyarakat. Inovasi sirup saga merefleksikan sinergi ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan penguatan ekonomi perempuan desa.

Kesimpulannya, dari Margasari lahir solusi inovatif yang memberi tiga manfaat sekaligus: menjaga kesehatan dengan pengobatan alternatif, memperkuat ekonomi komunitas lewat usaha bersama, serta melestarikan tradisi herbal lokal. (ydh)