Mengenal Kaki Pengkor pada Anak, Bisakah Sembuh Tanpa Operasi?

Palapanews.com- Kaki pengkor atau clubfoot merupakan kelainan bawaan yang membuat posisi kaki bayi tidak normal sejak lahir. Telapak kaki biasanya mengarah ke dalam, ke samping, atau bahkan ke atas. Kondisi ini bisa terjadi pada satu atau kedua kaki sekaligus.

Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai congenital talipes equinovarus. Meski tergolong langka, clubfoot dapat berdampak serius pada kemampuan anak untuk berdiri dan berjalan bila tidak ditangani sejak dini.

Menurut dr. Patar Parmonangan Oppusunggu, Sp.OT (K), Dokter Spesialis Ortopedi Anak di Eka Hospital BSD, kaki pengkor tidak bisa sembuh dengan sendirinya.

“Anak dengan clubfoot harus mendapatkan penanganan sejak dini agar fungsi kakinya tetap optimal saat tumbuh. Semakin cepat ditangani, hasilnya semakin baik,” ujarnya.

Clubfoot umumnya terjadi tanpa penyebab medis lain. Namun, dalam sebagian kasus, kondisi ini bisa berkaitan dengan kelainan genetik atau gangguan lain seperti spina bifida. Penyebab pasti belum diketahui secara pasti, tapi faktor keturunan diyakini memiliki pengaruh besar.

Selain faktor genetik, risiko kaki pengkor juga meningkat pada bayi laki-laki. Beberapa kondisi selama kehamilan seperti kekurangan air ketuban, paparan asap rokok, alkohol, atau infeksi virus Zika juga diduga ikut berperan dalam memicu gangguan ini.

Kondisi kaki pengkor bisa diketahui sejak dalam kandungan melalui pemeriksaan USG pada usia kehamilan 20 minggu. Jika tidak terdeteksi saat hamil, biasanya akan terlihat saat bayi lahir. Ciri-cirinya antara lain kaki melengkung ke dalam, otot betis mengecil, pergelangan kaki kaku, dan telapak kaki tampak terbalik.dr. Patar menjelaskan bahwa penanganan kaki pengkor tidak selalu harus melalui operasi.

“Penanganan awal bisa dilakukan dengan metode Ponseti, yaitu pemasangan gips secara bertahap untuk memperbaiki bentuk kaki,” jelasnya.

Gips pertama dipasang pada usia bayi beberapa minggu, lalu diganti setiap minggu selama lima hingga tujuh kali. Setelah bentuk kaki membaik, perawatan dilanjutkan dengan penggunaan alat penyangga khusus (orthotic) untuk menjaga posisi kaki tetap normal.

“Setelah fase gips, penyangga akan digunakan 24 jam selama tiga bulan, lalu hanya saat tidur malam hingga anak berusia sekitar tiga hingga lima tahun,” tambah dr. Patar.

Namun, jika metode konservatif ini tidak berhasil, barulah operasi dipertimbangkan. Dalam banyak kasus, metode Ponseti sudah cukup efektif mengembalikan posisi kaki.

Apabila tidak ditangani dengan benar, kaki pengkor bisa menyebabkan berbagai masalah seperti pincang, luka di kaki, kesulitan memakai sepatu, bahkan arthritis atau infeksi di kemudian hari. Bentuk kaki yang tidak biasa juga dapat memengaruhi kepercayaan diri anak saat tumbuh besar.

Karena penyebabnya belum bisa dicegah, fokus utama saat ini adalah pada deteksi dan pengobatan sedini mungkin. Bila bayi terlahir dengan clubfoot, orang tua disarankan segera berkonsultasi ke dokter spesialis ortopedi anak untuk penanganan lebih lanjut.

Salah satu dokter yang menangani kasus kaki pengkor dengan pendekatan khusus anak adalah dr. Patar Parmonangan Oppusunggu, Sp.OT (K), yang praktik di Eka Hospital BSD melalui Gatam Institute. (red)