Palapanews.com- Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, Sp.BS, dokter spesialis bedah saraf yang juga berpraktik di RS Siloam Kebon Jeruk, RS Siloam Lippo Village Karawaci, dan RS Siloam MRCCC Semanggi secara singkat menjelaskan proses pemasangan Deep Brain Stimulation (DBS) untuk mengatasi berbagai kondisi neurologis seperti penyakit Parkinson.
Menurut Made, langkah pertama dalam pemasangan elektroda DBS adalah dengan melakukan pemeriksaan MRI, yaitu sebuah prosedur pemindaian tubuh yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menciptakan gambaran detail dari otak yang membantu dokter untuk menentukan area yang akan diberikan stimulasi.
Prosedur berikutnya adalah memasang frame penyangga kepala. Frame ini akan membantu mengamankan kepala pasien agar dapat dilakukan pemetaan otak yang lebih tepat. Setelah frame dipasang, dokter akan melakukan pemetaan otak. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknologi yang disebut dengan trajectories. Trajectories digunakan dalam menentukan rute yang tepat untuk memasukkan elektroda ke otak sehingga dapat melakukan stimulasi.
“Dokter akan memasukkan elektroda DBS ke otak melalui lubang kecil pada tengkorak. Elektroda kemudian dipasang melalui sebuah tabung khusus yang memungkinkan dokter untuk memasang elektroda tersebut dengan tepat dan terkendali,” jelas Made di kawasan Binong, Karawaci, Tangerang, Selasa (11/7/2023).
Selanjutnya setelah elektroda dipasang, dokter akan mengaktifkan stimulator yang berperan untuk mengirimkan sinyal elektrik yang melalui elektroda ke otak dan memengaruhi sistem saraf yang mengendalikan gerakan. Dokter akan menentukan frekuensi optimal dan arus listrik yang diperlukan untuk mengendalikan gejala Parkinson.
Ketika prosedur selesai, pasien akan dimasukkan ke ruang pemulihan untuk dipantau oleh dokter dan tim medis. Pasien akan menjalani beberapa sesi pemrograman dan disarankan untuk melakukan beberapa aktivitas fisik saat tangan dan kaki distimulasi oleh DBS.
“Selama beberapa hari setelah operasi, pasien akan tetap dalam pengawasan tim medis untuk memantau kemajuan pasien serta memeriksa adanya komplikasi yang mungkin muncul. Selain itu, pasien diharuskan untuk menjalani sesi pemrograman ulang ketika dibutuhkan,” ungkapnya.
Metode DBS bisa dibilang merupakan metode yang memerlukan keterampilan khusus, tidak semua dokter spesialis bedah saraf boleh atau mampu melakukan operasi DBS tersebut. Seorang dokter spesialis bedah saraf harus memiliki sertifikasi dan untuk mendapatkannya, mereka harus menjalani pelatihan selama berbulan-bulan di lembaga sertifikasi yang letaknya saat ini masih dilakukan di luar Indonesia.
Perlu diketahui juga, berdasarkan data dan penanganan pasien Parkinson di Siloam Hospitals Lippo Village, tingkat keberhasilan dari prosedur DBS ini adalah sebesar 70 % sampai 80%.
“Tidak semua rumah sakit dapat melakukan tindakan operasi DBS, Siloam Hospitals Lippo Village merupakan salah satu rumah sakit yang secara fasilitas dan kompetensi tenaga medisnya mampu untuk melakukan DBS. Namun demikian, saat ini banyak rumah sakit yang mulai melirik treatment DBS karena besarnya tingkat keberhasilan dan pengaruhnya terhadap kualitas hidup pasien pascaoperasi dilakukan,” ujar dokter yang juga memiliki Certified Surgeon, Fluorescence Brain Tumor Surgery, Klinik fur Neurochirurgie, Universitatsklinikum, Freiburg, Jerman.
Sememtara itu, Dr. dr. Rocksy Fransisca V. Situmeang, Sp.N, menambahkan, pasien pascaoperasi tidak memerlukan pengobatan yang khusus. Umumnya pasien melaporkan kondisi yang lebih baik pasca operasi dan dapat mulai beraktivitas seperti biasa.
“Pasca operasi alat DBS masih dalam kondisi tidak aktif. Alat baru dinyalakan setelah1-2 minggu pasca operasi menunggu pemulihan luka pasca operasi. Selama masa pemulihan, pasien akan melakukan pemeriksaan medis secara teratur agar kondisinya terus termonitor dengan baik,” ujar dr. Rocksy.
Agar stimulasi dapat berfungsi dengan baik, voltage (voltase) dari elektroda tersebut harus diatur secara tepat. Setiap pasien mungkin memiliki pengaturan stimulasi DBS yang berbeda-beda, tergantung pada respons terhadap stimulasi, keparahan gejala Parkinson, dan seiring bertambahnya usia dari pasien tersebut.
Dalam pemrograman DBS yang dilakukan, ketika pasien merasa sudah nyaman dan pergerakan tubuhnya membaik, settingan sederhana tersebut mampu bertahan hingga berbulan-bulan bahkan sampai 1 tahun lebih sehingga pasien tidak perlu melakukan kontrol rutin untuk melakukan setting ulang terhadap DBS tersebut.
Adapun beberapa kriteria pasien yang cocok untuk operasi DBS Parkinson, diantaranya Penegakan diagnosis Penyakit Parkinson, telah maksimal dalam menggunakan obat, tidak adanya efek samping yang signifikan dari obat, kondisi medis lain yang stabil, usia pasien tidah lebih dari 75 tahun, dan kualitas hidup pasien.
“Keputusan pilihan untuk menjalani operasi DBS harus didasarkan pada evaluasi yang cermat dan diskusi antara pasien, dokter spesialis neurologi, dan keluarga,” tutupnya. (nad)
