Hati-hati, Stres Bisa Picu Kelelahan Parah

oleh -
Ilustrasi. Foto: Shutterstock

Palapanews.com- Stres sering kali berdampak pada kualitas dan waktu tidur seseorang. Umumnya, orang-orang mengaku lebih sulit untuk beristirahat saat mereka mengalami stres, sehingga hal tersebut juga berdampak pada jam tidur yang berkurang. Namun pada beberapa orang lainnya, stres malah memicu kelelahan yang membuat mereka merasa ingin tidur sepanjang hari.

Bagaimana stres bisa memicu kelelahan?

Dilansir dari Huffington Post, Deirdre Conroy, seorang direktur klinis di pusat gangguan tidur Universitas Michigan mengatakan, stres akan mempengaruhi kualitas dan kontinuitas tidur seseorang.

Efeknya, ada beberapa orang yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur, tapi ada juga yang sering terjaga atau terbangun berkali-kali di tengah tidur.

Biasanya stres dikaitkan dengan gejala insomnia. Pasalnya, ketika seseorang terkena paparan stres, maka tubuhnya akan mendorong lebih banyak rangsangan kognitif pada otak.

Rangsangan itu mengakibatkan seseorang jadi lebih sulit untuk menenangkan diri dan memikirkan hal-hal yang akhirnya membuat mereka susah memejamkan mata. Penyebab stres tersebut akan memicu kelelahan.

Stres juga mengarah pada peningkatan aktivasi sistem saraf simpatik yang kerap disebut sebagai fight or flight response. Fight or flight response merupakan sebuah mekanisme tubuh yang muncul ketika seseorang sedang menghadapi stres atau sebuah situasi yang berbahaya.

Pada saat itulah kelenjar dalam tubuh akan menghasikan hormon epinefrin atau yang lebih dikenal sebagai adrenalin.

Hormon adrenalin yang mengalir ke seluruh tubuh akan memberikan efek seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah yang membuat seseorang jadi lebih waspada terhadap lingkungan di sekitarnya.

Namun, tak jarang juga respons stres tersebut memicu kelelahan dan rasa mengantuk setelahnya. Proses terjadinya fight or flight response di dalam tubuh sendiri pun sangat menguras energi.

Pada saat hormon adrenalin yang dihasilkan dari fight or flight response mulai menurun, tubuh pun akan melepaskan berbagai hormon lainnya seperti kortisol yang merupakan hormon stres utama tubuh. Kadar kortisol yang tinggi akan mendorong tubuh untuk mengisi kembali energi yang hilang selama seseorang mengalami tekanan.

Dengan begitulah tubuh mengirim sinyal berupa rasa kantuk agar bisa membuat seseorang tertidur untuk mengembalikan energi yang telah digunakan.

Selain itu, banyak juga yang menganggap tidur sebagai sebuah cara singkat untuk melepaskan diri dari stres. Setidaknya, tidur akan memberikan sedikit rasa tenang.

Menghilangkan kantuk saat sedang stres

Memang, tidur untuk melepas penat dan stres bukanlah solusi yang buruk. Namun, jika tindakan ini mulai menjadi kebiasaan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ada baiknya Anda melakukan sesuatu untuk mengurangi frekuensinya.

Terkadang, rasa kantuk akibat stres yang dirasakan bisa berasal dari seberapa tingginya kadar glukosa di dalam darah.

Banyak orang yang kerap melampiaskan stresnya dengan mengonsumsi makanan manis dan berkarbohidrat tinggi. Hal ini normal mengingat pada saat stres tubuh juga memerlukan energi dalam bentuk glukosa.

Sayangnya, terlalu banyak konsumsi gula akan mengurangi aktivitas sel orexin sebagai pengatur gairah dan kesadaran. Akibatnya, Anda pun akan merasa mengantuk setelahnya.

Oleh karena itu, salah satu hal yang bisa Anda lakukan adalah mulai mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan karbohidrat tinggi setiap kali merasa stres. Ganti juga minuman ringan dengan minum air putih dalam jumlah yang cukup.

Selingi dengan olahraga untuk kebugaran tubuh di sela-sela jadwal kegiatan Anda. Bergerak lebih aktif sudah dipercaya menjadi cara yang cukup efektif untuk mengurangi rasa kantuk.

Tidak harus melakukan olahraga yang berat, kegiatan yang mudah seperti berjalan kaki juga bisa menjadi pilihan.

Cara lainnya adalah dengan mengatasi faktor-faktor yang membuat Anda stres. Tanyakan kembali pada diri sendiri akan hal-hal yang membuat Anda merasa terbebani, bila perlu Anda bisa menulisnya satu persatu di catatan.

Meski tak selalu mudah, menyortir pikiran setidaknya akan membantu Anda untuk lebih mengetahui akar masalah dan solusinya serta menghindarkan Anda dari stres yang dapat memicu kelelahan. (*)

Sumber: Hellosehat

Komentar Anda

comments