Dengue Shock Syndrome Lebih Bahaya dari Penyakit DBD

oleh -
Ilustrasi.

Palapanews.com- Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr Hendra Tarmizi mengatakan infeksi yang diakibatkan virus dengue terbagi menjadi tiga. Antara lain demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD) serta dengue shock syndrome (DSS).

Meski gejala ketiganya mirip, namun ketiga infeksi virus dengue itu berbeda. Demam dengue dan demam berdarah dengue merupakan hasil infeksi virus dengue. Penyebab DD dan DBD adalah karena gigitn nyamuk aedes aegypti yang sudah membawa virus dengue.

“Ketika menggigit, liur nyamuk aedes aegypti menyebabkan virus dengue berpindah dari tubuh nyamuk ke tubuh korban,” kata dr Hendra Tarmizi.

Gejala yang ditimbulkan DD dan DBD-pun hampir sama. Diantaranya, demam 2-7 hari, sakit pada kepala, penurunan keeping daraha atau trombosit dibawah 150.000 pada DD dan dibawah 100.000 trombosit pada DBD disertai bintik kecil merah pada kulit.

Perbedaan DD dan DBD yakni pada presentase hematokrit pada pemeriksaan lab serta tanda kebocoran plasma. Pada pasien DD terjadi peningkatan hematokrit sebesar 5-10 persen dari jumlah normal dan tidak ditemukan kebocoran plasma.

Sedangkan Pada pasien DBD terjadi peningkatan 20 persen dari jumlah normal, ditemukan kebocoran plasma serta penurunan kadar protein albumin. Sementara, untuk dengue shock syndrome DSS, gejala yang ditimbulkan sama persis seperti DBD. Namun kondisi DSS merupakan tahapan yang lebih parah atau kondisi kritis bagi penderita DBD.

Tanda-tanda pasien mengalami shock, denyut nadi cepat dan lemah saat dihitung per menit. Penurunan tekanan darah secara drastis atau lebih kecil dari 20 mmHg, kulit dingin dan lembab serta merasa gelisah.

Jika pasien mengalami tanda-tanda di atas, harus diwaspadai adanya shock sebab angka kematian pada kasus DSS lebih tinggi sepuluh kali lipat dibandingkan dengan DBD tanpa shock. (mat)

Komentar Anda

comments