Warung Kuliner di Situ Pamulang Dianggap Ganggu Lingkungan

oleh -
Seorang penunjung menikmati suasana taman kuliner di sempadan Situ Tujuh Muara. Foto: Nad

Palapanews.com- Warung kuliner yang berjejer rapi di sempadan Situ Tujuh Muara atau Situ Pamulang di Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) dianggap mengganggu pelestarian lingkungan dan melanggar regulasi.

Peraturan yang ditabrak, antara lain Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dalam aturan itu, salah satu pasalnya berbunyi bahwa sempadan situ merupakan ruang terbuka hijau (RTH).

Selain itu, ada regulasi lain, yakni Undang-Undang Nomor 11 tahun 1974 tentang Pengairan. Dalam aturan itu, disebutkan bahwa ada larangan mendirikan bangunan permanen/non permanen di area milik saluran situ sejauh 50 meter.

Pantauan Palapanews, ada 20 bangunan liar yang mayoritas diisi pedagang makanan maupun minuman. Sedangkan masuk ke Situ Tujuh Muara, pengunjung harus membayar uang parkir sebesar Rp3.000. Bahkan, dalam karcis parkir tertera Pakir Kendaraan Taman Kuliner Tepi Danau.

Melihat ini, Ketua Umum Organisasi Kepemudaan (OKP) Ganespa, Dodi Harianto mengatakan keberadaan bangunan itu mengakibatkan Ganespa tidak bisa bergerak untuk melakukan edukasi kepada anak sekolah terkait lingkungan.

“Untuk yang berada di sepanjang jalur dekat pintu air berdiri mulai 2015 dan sampai saat ini terus bertambah. Yang pasti semenjak keberadaan warung liar tersebut, kami tidak lagi mempunyai area terbuka untuk melaksanakan kegitan, baik itu edukasi ke anak sekolah dan kegiatan lain untuk pelestarian Situ Tujuh Muara,” tutur Dodi, Selasa (8/1/2019).

Dodi mengaku sudah berkordinasi dengan pihak pemerintah. Namun, Dodi tak mendapat jawaban yang memuaskan, malah diakuinya seakan dilempar-lempar.

“Kalau dari Pemerintah Daerah (Pemda) bilang itu bukan kewenang mereka, namun milik pusat. Saat ditanya ke pusat, katanya itu kewenangan daerah. Ngga jelas!” tandasnya. (nad)

Komentar Anda

comments