Pengalaman Penyaluran Bantuan Kemanusiaan ke Kabupaten Asmat

oleh -
Foto bersama anak-anak Asmat.

Palapanews.com- Pengalaman kunjungan ke Kabupaten Asmat, Papua, pada Januari lalu masih membekas di kepala. Kondisi kehidupan di wilayah ujung timur Indonesia ini begitu berbeda dibandingkan dengan kehidupan saya di pulau Jawa, tepatnya di Tangerang Selatan.

Di sana, masyarakatnya hidup di rawa-rawa dan dikelilingi dengan air payau. Maka itu, masyarakat Kabupaten Asmat sangat jauh dari air bersih. Bahkan terlihat dari pantauan saya, mereka cenderung tidak bisa membedakan mana yang bersih dan kotor. Apalagi membedakan mana yang bergizi atau tidak.

Kabupaten Asmat juga dijangkau dengan akses yang tidak mudah. Saya sendiri ketika berkesempatan ke kota seribu papan itu harus melalui jalur laut dengan menggunakan kapal kayu selama 12 jam dari Timika. Selain jalur laut, untuk ke Kabupaten Asmat Anda juga bisa menumpang pesawat kecil.

Minimnya sarana kesehatan seperti puskesmas, taraf perekonomian masyarakatnya rendah, keterbatasan sarana transportasi dan keterbatasan akses distribusi makanan bergizi menjadi faktor terjadinya gizi buruk.

Kondisi RSUD di Distrik Agats, Kabupaten Asmat juga terlihat miris. Sampah di bawah konstruksi panggung juga terlihat menumpuk dengan banyaknya lalat yang hinggap. Kubangan air berwarna cokelat pun terlihat dengan kasat mata.

Bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak untuk KLB Gizi Buruk dan Campak juga terus mengalir. Hanya saja, untuk susu-susu bayi atau balita kerap digunakan sebagai campuran kopi bagi para bapak-bapak.

Sungguh miris hati saya, ditengah kondisi Freeport Papua yang kaya raya masih ada Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang berdampak gizi buruk. Belum lagi pengalaman dan rintangan di tengah perjalanan yang saya alami yang jika diceritakan bisa menjadi novel.

Kapendam XVII/ Cenderawasih Kolonel Infantri Muhammad Aidi saat ditemui di Bandara Mozes Kilangin, Timika beberapa waktu lalu juga mengatakan, dengan adanya KLB ini membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Namun, ia juga menegaskan bahwa bantuan yang dibawa jangan hanya sampai Timika saja, tapi harus sampai ke Agats.

“Kalau membawa bantuan, jangan sampai sini saja (Timika-red), karena perjalanan masih sangat panjang untuk menuju ke Agats. Belum lagi transportasi yang mahal untuk menuju ke sana,” jelasnya (27/1) lalu.

Kita semua tentunya berharap ada pembenahan di segala aspek kehidupan di Kabupaten Asmat. Perlu ada kebijakan dan perhatian khusus untuk memproteksi orang Asmat dan budayanya. Kita semua mengetahui, gaya hidup yang tidak sehat diketahui dapat menimbulkan segala macam penyakit. (nad)

Komentar Anda

comments