Palapanews.com- Sungguh miris melihat apa yang dilakukan bidan di Kota Tangerang. Bayi mungil yang baru dilahirkan tidak boleh dibawa pulang lantaran orang tuanya belum melunasi biaya persalinan.
Bidan mendesak kedua orang tua bayi mencari dana untuk membayar biaya persalinan sebagai syarat membawa pulang buah hati mereka.
Bahkan, bayi tersebut saat kelahirannya langsung dibawa oleh bidan tersebut, yang membuat bertanya-tanya keberadaannya hingga kini.
Randi Ginting (30) ayah dari bayi mengatakan, kejadian bermula saat dirinya mengantar istrinya yang mau melahirkan ke bidan Yuni di wilayah RT 01 RW 02, Kelurahan Karang Sari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, pada 22 September 2018. Oleh pihak bidan, istri dari Randi dibawa ke salah satu rumah sakit di wilayah Kota Tangerang, lantaran kondisi ibu sang bayi sudah tidak memungkinkan dan harus segera dilakukan operasi cesar.
“Saat di rumah sakit saya ditawarkan paket biaya bidan. Paket itu ditawarkan langsung oleh bidan bukan dari rumah sakit,” ujar Randi saat menceritakan kesedihannya di rumahnya di Kampung Selapajang Jaya RT 02 RW 04, Kelurahan Selajang Raya, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Senin 1 Oktober 2018.
Randi menjelaskan, bidan menawarkan paket sebesar Rp10 juta untuk biaya persalinan. Saat prosesi telah usai dengan kondisi bayi yang normal berjenis perempuan, biaya tersebut langsung diminta ke orangtua bayi itu.
“Saat itu karena saya tidak punya uang, saya minta butuh waktu untuk membayarnya. Tapi, oleh bidan diminta untuk hari itu juga membayarnya,” kata Randi.
Randi menambahkan, oleh bidan istri dan anaknya pun disuruh menginap di rumah sakit selama perawatan.
Namun, pada 26 September 2018, istri bersama buah hatinya akhirnya dikeluarkan dari rumah sakit atas permintaan bidan Yuni, lantaran belum melunasi pembayaran.
“Saya disuruh mencicil, saat tengah mengupayakan dananya, tiba-tiba berselang empat hari, istri dan anak saya disuruh pulang, itu pun tanpa sepengetahuan dari saya,” jelas ayah yang memiliki tiga anak perempuan ini.
Lanjutnya, kepulangan istri dan anaknya yang diantarkan bidan itu pun tidak langsung menuju ke rumah, melainkan ke tempat praktek bidan tersebut.
“Saat pulang dari rumah sakit, istri saya ngomong ke bidan kalau mau menunggu saya. Tapi oleh bidan itu dipaksa untuk pulang dan bidan itu ngomong ‘ribet suami kamu itu’. Ternyata, saat di jalan, hanya istri saya saja yang diantar pulang ke rumah, sedangkan bayi saya ditinggal di tempat praktek bidan,” jelas Randi.
Randi menambahkan, bidan tersebut pun sempat mengatakan bahwa bayi saya itu dititipkan ke rumah penyimpanan anak dengan mematok biaya penitipan Rp250 ribu per hari kepada istrinya.
“Tanpa bisa berbuat apa-apa, istri saya yang masih dalam keadaan lemas langsung menangis dan menceritakan hal tersebut kepada saya saat di rumah,” papar Randi.
Menurut Randi, pihaknya telah mencoba berkomunikasi dengan bidan Yuni, untuk berdiskusi masalah biaya. Pihak keluarga pun mencoba untuk mengambil opsi membayarkannya melalui BPJS, tapi ditolak oleh bidan Yuni.
“Kata bidannya, kalau pakai BPJS paket bidan dilepas olehnya. Tapi, saat itu juga bidan Yuni ngomong kalau tanpa paket bidan, biaya persalinan dari hari Sabtu hingga Rabu (22 September 2018-26 September 2018) menyentuh harga sebesar Rp17.5 juta,” ucap Randi seperti yang dibicarakan oleh bidan Yuni.
Randi pun mencoba konfirmasi kepada pihak rumah sakit terkait biaya persalinan hingga perawatan istri dan anaknya.
“Dari keterangan rumah sakit memberikan jawaban kalau urusannya hanya dengan pihak bidan Yuni saja. Dari situ saya pun punya pemikiran adanya permainan antara keduanya,” kata pria yang kesehariannya bekerja sebagai supir taksi itu.
Namun, Randi menambahkan, saat pihaknya mencoba kembali berkomunikasi dengan bidan Yuni pada Kamis 27 September 2018, telepon genggamnya tidak aktif.
“HP nggak aktif, saya datangi ke lokasi prakteknya pun tidak ada aktifitas disana. Hingga saya coba hubungi lagi sampai hari Sabtu pun nggak aktif,” ucapnya.
Lanjutnya, lantaran tak ada komunikasi dengan bidan, pihak keluarga pun melaporkan kejadian tersebut ke Polres Metro Tangerang Kota, guna diselidiki.
“Di hari Sabtu itu, saya bersama polisi juga sudah mendatangi tempat praktek bidan itu. Tapi tempat prakteknya terkunci rapat,” katanya.
Randi pun berharap agar dirinya bisa dipertemukan kembali dengan buah hatinya itu, lantaran selama enam hari tak ada informasi keberadaan dari bidan tersebut.
“Berharap anak saya bisa kembali ke saya dan istri. Karena sudah enam hari ini saya tidak tahu keberadaan bidan tersebut dimana,” tutupnya.(rik)
