Palapanews.com – Dalam upaya memperkuat kapasitas pengurus komunitas lingkungan, Program Komunitas ALW (Ayo Less Waste) melalui sesi Upgrading Environmentalist, kali ini menghadirkan Sigit Priambodo, tokoh penggerak pengelolaan sampah di wilayah Tangerang Selatan.
Dalam materi yang disampaikan, Sigit yang juga CEO Gerai Lengkong Waste Center dan Sekjen Gerakan Peduli Tangsel ini, menekankan pentingnya memilah sampah organik dari anorganik sejak di rumah sebagai langkah awal pengelolaan limbah secara cerdas dan berkelanjutan.
Menurutnya perubahan habits dalam pengelolaan sampah memerlukan kesadaran, pemahaman, serta praktik yang konsisten. Sigit juga membagikan tahapan pembelajaran yang menurutnya penting dilalui yaitu dari ‘Mau’ → menjadi ‘Tahu’ → menjadi ‘Mampu’ → hingga ‘Mahir’ dalam mengelola sampah organik agar menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sesi tersebut, dijelaskan beberapa metode praktis untuk mengolah sampah organik yang umum dipraktekkan di banyak komunitas lingkungan, antara lain: Komposting (pembuatan kompos), yaitu penguraian sampah organik menjadi bahan tanah yang dapat memperbaiki struktur tanah.
Biopori, yakni pembuatan lubang resapan yang membantu sampah organik terurai menjadi kompos sekaligus meningkatkan daya serap air tanah. POC (Pupuk Organik Cair) dan Eco-Enzyme, produk fermentasi dari limbah dapur yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian, kebun, atau pembersihan rumah tangga.
BACA JUGA : Upaya Cegah Bencana Ekologis Berulang, Ayo Less Waste Bareng PNH Salurkan Bibit Pohon di Yogyakarta
Selain itu, peserta juga diajak melakukan praktek langsung membuat Bio Wash — media yang membantu mempercepat hasil kompos dari sampah organik, yang sering digunakan sebagai bioaktivator dalam proses pengomposan. Praktik dan pembelajaran dinilai sangat berarti oleh peserta.
“Sesi Upgrading Environmentalist kali ini sangat bermanfaat. Kami jadi lebih paham bagaimana mengolah sampah organik dengan cara yang cerdas dan terstruktur. Terima kasih Pak Sigit. Semoga tim kami bisa mempraktikkan ilmu ini dengan baik dan istiqomah,” jelas Havid peserta dari divisi HRD ALW.
Dalam penutupannya, Sigit mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya soal latar belakang, usia, atau pendidikan, tapi soal kesadaran dan komitmen bersama. “Cukup pakai hati untuk peduli, karena bumi kita hanya satu,” tegasnya.
Sampah makanan merupakan bagian terbesar dari timbunan sampah rumah tangga di Indonesia. Banyak penelitian dan program menunjukkan bahwa sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan sayur menyumbang porsi besar limbah domestik — serta jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bau, gas rumah kaca, dan masalah lingkungan lainnya. (rls/bd)
