Palapanews.com- Kurang dari tiga bulan sejak dilantik, duet pemimpin baru Kota Tangerang, Sachrudin dan Maryono, terus berpacu dengan waktu. Komitmen mereka untuk membawa perubahan bukan sekadar janji kampanye—melainkan mulai diwujudkan lewat program 100 hari kerja.
Yan Dwita Hermansyah
Disaksikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pelantikan pasangan ini di Istana Negara pada 20 Februari 2025 menjadi titik awal pergerakan. Sejak saat itu, mesin birokrasi Kota Tangerang dipacu untuk sinkron, cepat, dan sigap dalam menindaklanjuti visi besar yang mereka usung: Gampang Sekolah, Gampang Kerja, dan Gampang Sembako—atau dikenal sebagai program 3G.
Program yang dulunya hanya slogan di baliho dan panggung kampanye, kini dikejar realisasinya di lapangan. Melalui sinergi dengan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Sachrudin dan Maryono berharap masyarakat benar-benar bisa merasakan dampaknya. Namun, pekerjaan rumah belum selesai.
Hingga hari ke-60 masa kerja, realisasi program 3G baru mencapai 45 persen. Angka itu cukup menggambarkan tantangan besar yang dihadapi. Wali Kota Sachrudin pun tak menampik bahwa implementasi program tersebut membutuhkan ketegasan kebijakan dari para kepala OPD.
“Setiap program pasti melalui perencanaan, pelaksanaan, dan tentu evaluasi. Kami akan terus evaluasi agar manfaatnya benar-benar terasa dan tepat sasaran,” ujar Sachrudin dalam keterangannya, Rabu, 21 Mei 2025.
Meski belum genap 100 hari, beberapa langkah konkret mulai tampak. Salah satunya adalah percepatan penyerahan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) dari pengembang perumahan kepada Pemkot. Hingga saat ini, tercatat 11 pengembang telah menyerahkan PSU kepada pemerintah daerah.
Langkah ini penting. Sebab, di banyak kawasan permukiman, warga masih menghadapi persoalan terkait fasilitas umum dan sosial. Dengan serah terima PSU, pemerintah bisa langsung melakukan perbaikan, pembangunan, dan pengelolaan untuk kepentingan masyarakat.
“Kami terus melakukan pendataan dan percepatan serah terima agar fasilitas seperti jalan, drainase, dan taman bisa langsung dinikmati masyarakat,” kata Sachrudin.
Dengan sisa waktu yang ada, tantangan Pemerintah Kota Tangerang adalah menjaga ritme dan memastikan semua OPD bekerja dalam satu irama. Karena bagi warga, yang dinanti bukan sekadar rencana—tapi hasil yang bisa dirasakan. (*)
