Festival Mookervart untuk Mengenang dan Melestarikan Napak Tilas Sejarah Kota Tangerang

Palapanews.com- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang menggelar Festival Mookervart yang berlokasi di Hutan Kota. Festival untuk ketiga kalinya ini diadakan untuk melestarikan cagar budaya dan sejarah Kota Tangerang.

Festival Mookervart ini digelar sebagai sarana untuk melestarikan cagar budaya yang ada di Kota Tangerang sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Cagar Budaya merupakan warisan budaya yang bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya.

Festival yang dilaksanakan selama dua hari ini juga sebagai langkah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang keberadaan Pintu Air Kali Mookervart yang dibangun sekitar tahun 1732 sebagai pengendali dan pemasok air ke wilayah Batavia serta sebagai sarana transportasi air.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang, Rizal Ridolloh menerangkan, Festival Mookervart ini untuk memperkenalkan kekayaan cagar budaya yang ada di Kota Tangerang serta memperkenalkan kearifan lokal yang ada di Kota Tangerang.

“Jadi ini salah satu upaya kami sebagai pemerintah memperkenalkan dan memberikan edukasi tentang cagar budaya di Kota Tangerang. Selain itu ada juga Masjid Kali Pasir, ada dua vihara, stasiun kereta api dan lain sebagainya,” imbuh Rizal Ridolloh, Kamis, 30 Mei 2024.

Untuk festival kali ini, tambah Rizal, melibatkan banyak budayawan serta diramaikan dengan ragam penampilan kekayaan kebudayaan yang dimiliki Kota Tangerang. “Pembukaan dibuka dengan penampilan Tari Saman, Palang Pintu hingga Silat Be’si Tangerang. Tak sampai di situ, di area Festival Mookevaart juga hadir sejumlah stand yang menyajikan ragam karya pelajar Kota Tangerang hingga karya seni masyarakat Kota Tangerang,” paparnya.

Dihari pertama ini, diisi dengan dialog sejarah dan kebudayaan terkait Kali Mookervaart dengan Menghadirkan Mushab Abdu As Syahid, Balai Pelestarian Kebudayaan VIII dan Oey Tjin Eng.

“Sedangkan kemeriahan kebudayaan lainnya, di hari pertama juga berlangsung penampilan tehyan, karinding, wayang golek hingga debus,” kata Rizal seraya menambahkan, melalui Festival Mookervaart tentunya bisa merawat ingatan relasi saluran air dengan sejarah Kota Tangerang itu sendiri.

“Tak terkecuali, sebagai momentum untuk meningkatkan rasa kepedulian masyarakat sekitar terhadap kelestarian Kali Mookervaart,” pungkasnya.

Sementara itu, Penjabat Wali Kota Tangerang, Nurdin menyampaikan, rasa bangga atas pelaksanaan Festival Mookervart yang diharapkan dapat menjadi ajang tahunan yang mampu menarik minat wisatawan, baik dari dalam maupun luar kota.

“Festival Mookervart ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga bentuk nyata dari upaya kita bersama untuk melestarikan budaya dan sejarah kota ini. Semoga acara ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan pariwisata di Kota Tangerang,” ujarnya.

Ajang tahunan ini, kata Dr. Nurdin, yaitu dalam rangka menyusuri kembali jejak perjalanan panjang Kota Tangerang. “Ini napak tilas, sekitar 500 tahun yang lalu kali Mookervart ini menjadi jalur transportasi massal bagi Warga Kota Tangerang yang ingin pergi ke wilayah Batavia pada saat itu,” ungkap Nurdin.

Alumnus Universitas Indonesia ini, juga menerangkan, dalam festival ini juga menghadirkan beragam bentuk budaya dan kesenian yang ada di Kota Tangerang. “Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan kepada generasi muda betapa beragam dan banyaknya sejarah di Kota Tangerang,” terangnya.(adv)

Komentar Anda

comments