Mengenal Penyebab Speech Delay dan Cara Mengatasinya

Palapanews.com- Sebagai orang tua, gelisah adalah hal yang wajar ketika anak mengalami keterlambatan bicara. Oleh sebab itu, pemeriksaan tumbuh kembang anak secara menyeluruh sangatlah penting karena bisa jadi masalah bahasa dapat muncul karena penyebab yang lain.

dr. Tarka Yulasutu dalam wawancaranya bersama Doodle Exclusive Baby Care menerangkan, speech delay yang diartikan speech berbicara dan delay terlambat, merupakan keterlambatan bicara pada anak diusia tertentu dan masing-masing anak memiliki milestone atau perkembangan masing-masing.

Menurutnya, setiap anak memiliki speech delay masing-masing, biasanya salah satu tandanya anak itu tidak mulai berbicara pada usia yang diharapkan. Ataupun menjelaskan dengan kosakata yang terbatas, serta tidak bisa menyusun kalimat.

“Biasanya anak bisa mengucapkan kalimat diusia 12 hingga 18 bulan, atau ciri lain anak yang mengalami speech delay adalah tidak bisa berkomunikasi dengan teman sebayanya dengan bahasanya sendiri. Perhatiannya terbatas pada percakapan dan tidak fokus dengan lawan bicaranya,” ujar dr. Tarka.

Dokter yang berpraktek di RS Permata Serdang, Banten ini mengungkapkan, salah satu penyebab speech delay adalah faktor genetik karena anatomi. Jika salah satu anggota keluarganya yang mengalami speech delay terdahulu bisa jadi menurun ke anak. Sedangkan untuk anatomi ataupun kekuatan dari otot-ototnya, saat berbicara menggunakan motorik yakni bagian wajah adanya masalah disalah satu bagian otot wajah,otot mulut, otot bibir, otot pipi ataupun otot lidah.

“Pendengaran juga merupakan salah satu faktor dari speech delay. Gangguan pendengaran ada sifatnya permanen, seperti gangguan anatomi kesimbangan sejak lahir ataupun gangguan dari anggota telinganya ataupun sifatnya sementara. Saat ada gangguan pendengaran anak tidak akan bisa menjawab karena tidak bisa mendengar temannya. Tidak bisa meniru-niru suara yang akan menghambat latihan berbicara,” ungkapnya.

Disisi lain, dr. Tarka menjelaskan cara merangsang anak untuk lancar berbicara karena salah satu ada kelemahan otot bicara, sebagai orang tua kita harus tau warning finenya. Biasanya dibuku pink ada tabelnya, untuk itu perlu dicek apakah sudah sesuai dengan tumbuh kembangnya saat ini. Bantu anak dengan cara memancing dengan interaksi positif dengan anak. Ajarkan anak dengan kata-kata, berikan makanan sesuai dengan usianya.

“Umur 6 bulan awalnya diberikan makanan dengan tekstur cair, kemudian selanjutnya akan naik tekstur sampai ke makanan yang padat. Hal ini berguna untuk melatih otot mulutnya supaya giginya bisa berfungsi dengan maksimal dan siap untuk menyampaikan kata-kata. Berikan pula mainan yang bisa memancing otot-otot mulut seperti mainan yang bisa digigit. Juga latih anak untuk menyedot dengan menggunakan sedotan. Setiap tahap pemberian makanan membantu anak untuk mencapai tahapan berbicara. Jika ada masalah segera konsultasikan kedokter sebelum terlambat,” tambahnya.

Dikatakan lagi, jika anak mengalami speech delay bisa diterapi dengan stimulasi oromotor. Seperti terapi wicara dengan alat tertentu, dengan berbagai macam metode berbicara, metode bermain interaktif, diajak berbagai macam cara untuk menarik anak untuk berbicara.

“Ada juga terapi menirukan wajah sedih dan bahagia, dimana anak akan menggerakan wajahnya. Selain itu adapula terapi fokus interaktif pembelajaran seperti menunjukan model mobil, warna sambil menyontohkan cara mengucapkan sehingga anak menirukan secara maksimal,” terangnya.

Dalam perbincangannya bersama Doodle Exclusive Baby Care beberapa waktu lalu, dr. Tarka Yulasutu juga mengemukakan bahwa nutrisi sangat berpengaruh terhadap anak yang mengalami speech delay karenakan kognitif dari saraf-saraf pusatnya dan salah satu faktor resikonya karena prematur dengan anatomi yang belum sempurna untuk bagian dalamnya.

“Untuk itu setiap anak perlunya nutrisi-nutrisi seimbang terutama vitamin D dan kalsium yang berfungsi untuk menguatkan tulang dan otot. Jika terjadi kekurangan kalsium atau defisiensi akan terjadi kekurangan pada otot. Selain itu nutrisi yang cukup akan menguatkan saraf-saraf didalam tubuh,” tandasnya.

Screentime bukan sebagai salah satu faktor penyebab, hanya saja menjadi pencetus speech delay meskipun tidak terlalu besar presentasenya. Screentime sendiri membuat anak menjadi kurang fokus, yang seharusnya anak berinterasi dengan orang dewasa atau teman sebayanya untuk komunikasi efektif. Karena screentime ini komunikasinya hanya searah, hanya melihat tidak bisa berkomunikasi dua arah ditambah lagi negatifnya bisa melihat konten-konten tidak sesuai usianya. Ditambah lagi mata menjadi minus karena terlalu dekat.

Diakhir perbincangannya, Dokter bernama lengkap dr. Tarka Yulasutu ini berpesan para ibu memperhatikan diusia-usia tertentu perlu dilihat respon anak. Setiap anak memiliki perkembangan masing-masing. Stimulasi perlahan jika ada keterlambatan diusianya. Jika tidak ada perubahan segeralah bawa anak kedokter sehingga segera tertangani dan bisa dikendalikan. (nad)