Dexamethasone Diklaim Mampu Sembuhkan Pasien Covid-19

oleh -

Palapanews.com- Obat generik dexamethasone sedang naik daun dan mendapatan sorotan publik global. Pasalnya, obat satu ini dinilai mampu sembuhkan pasien penderita virus Corona (Covid-19) yang parah.

Mengutip informasi yang dirilis di situs resmi National Institute of Health (NIH) merupakan jenis obat generik yang masuk dalam golongan kortikosteroid sintetik anti-inflamasi.

Obat ini banyak digunakan untuk berbagai penyakit seperti artritis (radang sendi), lupus, psisoriasis (radang kulit kepala), alergi, colitis ulcerative (radang usus kronis) hingga gangguan pernapasan.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa uji coba penggunaan obat ini kepada pasien Covid-19 yang parah di Inggris menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Peneliti dari Universitas Oxford melaporkan dexamethasone bisa menurunkan tingkat kematian pasien yang menggunakan ventilator hingga sepertiga kali dan seperlima kali pada pasien yang menggunakan tabung oksigen.

“Ini merupakan studi pertama yang menunjukkan bahwa tingkat kematian bisa diturunkan pada pasien yang membutuhkan oksigen maupun yang sedang menggunakan ventilator,” kata Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip dari CNBCIndonesia, Kamis (18/6/2020).

“Ini adalah kabar gembira dan saya menyampaikan ucapan selamat kepada pemerintah Inggris dan Universitas Oxford dan kepada rumah sakit serta pasien di Inggris yang sudah terlibat dalam dalam terobosan saintifik penyelamat hidup ini” tambahnya.

Menurut berbagai studi satu dari enam penderita Covid-19 mengalami kesulitan untuk bernapas. Sebanyak 40% yang mengalami kesulitan bernapas juga mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). ARDS ini lah yang menjadi pemicu semakin parahnya kondisi pasien Covid-19 dan dapat berujung pada kematian.

Penggunaan dexamethasone untuk gangguan pernapasan seperti ARDS sebenarnya sudah pernah diuji coba beberapa tahun silam. Studi ini dilakukan oleh Jesus Villar bersama 14 peneliti dari Spanyol lainnya dan dipublikasikan di jurnal Lancet Respir Med.

Dalam uji coba tersebut pasien yang menderita ARDS sebanyak 277 orang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok kontrol yang tak diberi dexamethasone dan kelompok perlakuan. Pada hari ke 1-5 pasien diberi 20 mg dexamethason 1x sehari, kemudian pada hari ke 6-10 dosisnya dikurangi menjadi 10 mg saja.

Hasilnya menunjukkan pasien yang diberi dexamethasone membutuhkan waktu penanganan dengan ventilator yang lebih singkat meski hasilnya tak terlalu signifikan. Pada hari ke-60, sebanyak 29 (21%) pasien yang diberi dexamethason meninggal dunia.

Sementara untuk kelompok yang tidak diberi dexamethasone angka kematiannnya lebih tinggi mencapai 50 (36%) orang. Namun dalam publikasinya, percobaan dihentikan oleh dewan pemantauan keamanan data karena tingkat pendaftaran yang rendah setelah mendaftarkan lebih dari 88% (277/314) dari ukuran sampel yang direncanakan.

Sebagai obat anti-inflamasi, dexamethasone memang menjadi salah satu kandidat obat yang menjanjikan untuk penanganan Covid-19 terutama pada pasien yang parah kondisinya.

Pasalnya pasien yang menderita Covid-19 parah umumnya mengalami respons inflamasi yang berlebihan sehingga memicu munculnya ARDS. Sehingga obat anti-inflamasi seperti dexamethasone juga digunakan untuk merawat pasien. Ini bisa menjadi penjelasan mengapa dexamethason efektif pada pasien yang Covid-19 yang parah.

Tentunya golongan obat anti-inflamasi tidak hanya dexamethasone saja. Obat-obatan lain yang berasal dari golongan non-steroid (NSAID) juga digunakan untuk melawan Covod-19.

Ke depan masih perlu ada uji coba lebih lanjut obat-obatan lain. Namun karena obat dexamethason merupakan obat generic dan relatif murah, maka kabar ini jelas menggembirakan apalagi jika hasil yang sama juga dilaporkan di negara-negara lain.

Artinya ada harapan penyembuhan pasien Covid-19 yang parah bisa berlangsung lebih cepat dengan ongkos yang lebih murah. (red)

Komentar Anda

comments