Santriwati An-Nuqthah Juara II Kompetisi Dunia WICE 2019

oleh -

Palapanews.com- Dua santriwati asal Pondok Pesantren (Ponpes) Modern An-Nuqthah, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, dengan meraih medali perak dalam kompetisi World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2019 yang berlangsung di SEGI College, Subang Jaya, Malaysia.

Mereka adalah Najila Qurotu Aini (16) dan Hamnah Rohiatul Fauziah (16) yang berhasil menemukan Sajadah Pengingat Rakaat (Rakaat Reminder Device) yang dilengkapi dengan perangkat Arduino Uno serta sebuah tombol. Selain itu, ada sebuah layar yang nantinya menunjukkan angka pengingat.

Menurutnya, ini merupakan tahun kedua dirinya dan rekannya mengikuti kompetisi tersebut. Jika yang pertama kompetisinya tingkat ASEAN, tapi tahun ini kompetisi tingkat dunia dan menempati posisi runner up.

“Untuk kompetisi tingkat dunia ini diikuti oleh 15 negara termasuk dari Eropa. Sajadah pengingat rakaat ini dibuat karena pengalaman tidak jarang dirasakan. Itu persoalan sehari-hari yang sering dirasakan. Jadi akhirnya kita kepikiran untuk membuatnya,” ungkapnya

Berhasil meraih juara dua tingkat dunia, hal itu rupanya tidak membuat mereka puas. Terlebih teknologi yang digunakan dalam sajadah itu terbilang sudah ketinggalan zaman. Karena itu, mereka bermaksud ikut lagi tahun depan.

“Nanti kita akan dikasih alat baru, mudah-mudahan tahun depan kita bisa gunakan teknologi baru tersebut,” terangnya.

Sementara Hamnah Rohiatul menyatakan, kompetisi WICE 2019 yang digelar pada 2 hingga 6 Oktober lalu, telah melewati beberapa tahapan. Yakni pemaparan atau presentasi, sampai dengan penilaian dan akhirnya pengumuman pemenang.

Menanggapi keberhasilan salah santriwatinya, salah seorang pengajar di Ponpes An-Nuqthah, Nurdin mengungkapkan rasa bangga, dengan keikutsertaan pesantrennya di ajang kompetisi ini.

“Jadi kita minta santri untuk menciptakan penemuan apa saja. Makanya sebetulnya bukan hanya sajadah pengingat rakaat saja yang diciptkan, tetapi cukup banyak. Seperti sandal alarm dan lain-lain, tapi memang akhirnya sajadah pengingat rakaat ini yang kita kirim untuk bertanding,” bebernya.

Bahkan, agar tidak diklaim pihak lain, sajadah pengingat rakaat ini rencananya akan dipatenkan dan diproduksi secara massal, sehingga nama An-Nuqthah juga terangkat.

“Terlebih ponpes yang mempunyai ribuan santri ini juga menjadi satu-satunya pihak yang mewakili pesantren dalam ajang kompetisi dan menjadi kebanggaan,” imbuhnya.

Untuk diketahui, kompetisi ini merupakan event yang unik karena digelar oleh dua negara, yakni Indonesia yang diwakili oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan Malaysia diwakili oleh SEGI College, di kampus SEGI College Subang Jaya, Malaysia. (nad)

Komentar Anda

comments