Tingkatkan Nilai Jual, LIPI Kembangkan Produk Implan Generik

oleh -

Palapanews.com- Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), impor baja nasional dalam kurun waktu dua tahun berturut-turut menduduki peringkat tertinggi dan memiliki kecenderungan untuk mengalami peningkatan. Padahal, logam baja berperan penting untuk pembangunan proyek infrastruktur dan menopang kegiatan sektor industri lainnya.

Maka dari itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Metalurgi dan Material melaksanakan penelitian serta pengembangan sifat-sifat logam tambang dengan menonjolkan keunggulan kandungannya untuk menambah nilai jual.

Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Materil LIPI, Nurul Taufiqu Rochman mengatakan ada empat yang sedang dikembangkan yakni pengolahan dolomit, kawat superkonduktor, pembangunan sistem kontruksi transportasi berbasih laterit, dan pembuatan implan generik seperti pen dan tempurung lutut.

“Kami melakukan proses modifikasi sifat-sifat paduan baja dengan menonjolkan keunggulan nikel karena bahan baku biji laterit dengan kandungan Ni cukup tinggi dan berlimpah di Indonesia,” katanya, Selasa (13/8/2019).

Peneliti pembuatan implan generik seperti pen dan tempurung lutut, M Ikhlasul Amal mengatakan sudah dari tahun 2005 direncanakan.

“Kemudian tahun 2017 secara informal melakukan aktivitas bareng bersama RSCM dan RS Hasan Sadikin. Dan, sekarang baru saja saya dihubungi oleh pihak RSCM meminta kerjasama lebih besar lagi dan lebih serius lagi,” tutur Amal.

Lanjutnya, di tahun ini akan melakukan uji coba di tubuh manusia. Karena, menurut Amal, pihaknya hanya menyediakan implan generik yang diminta oleh pihak rumah sakit.

“Desain sudah kami siapkan akan disesuaikan dengan tubuh masyarakat Indonesia. Dan tahun ini akan dilaksanakan uji coba, spesifikasi dari dokter dan kami akan membuat seperti apa yang diminta,” ungkapnya.

Inovasi yang terbaru, LIPI akan menggunakan bahan magnesium dimana nantinya implan generik bisa luruh dengan sendirinya di dalam bagian tubuh.

“Inovasi terbaru menggunakan magnesium yang bisa luruh dengan sendirinya. Dan kami menggunakan 3D printing, kalau yang lama kan menggunakan cetakan. Sekarang kaya ngeprint di mesin printer, kita tinggal ganti gambar dan langsung cetak,” terang Amal.

Kini LIPI hanya memikirkan bagaimana caranya produk tersebut agar bisa di komersialisasi dan diproduksi masal dan menjalin kerjasama dengan industri yang membutuhkan. (nad)

Komentar Anda

comments