Palapanews.com- Jumlah warga miskin di Kabupaten Tangerang, Banten, semakin meningkat dari tahun ke tahun. Penambahan warga miskin tersebut meningkat sejak 2015 hingga 2018, sebanyak 45.610 jiwa.
“Angka kemiskinan di 2015 berada pada 877.795 jiwa. Namun, di 2018 meningkat menjadi 923,405 jiwa. Data itu didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Tapi data itu akan kita perbaharui dengan dilakukan mekanisme pemutakhiran mandiri (MPM),” ujar Kepala Sub Bidang (Kasubid) Kesehatan dan Pemberdayaan Keluarga Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, Kirwan, Selasa, 29 Januari 2019.
Selain itu, Kirwan menjelaskan, jumlah desa dengan rumah tangga miskin pun meningkat. Sebanyak 229.344 rumah tangga miskin di 2015, sedangkan di 2018 bertambah menjadi 240.606 rumah tangga.
“Kenaikan rumah tangga miskin tersebut terjadi di tiga desa. Hal itu akan dijadikan sebagai peningkatan pemberdayaan pengentasan kemiskinan,” katanya.
Kirwan mencatat sedikitnya lima desa di Kabupaten Tangerang masuk dalam zona kemiskinan. Dua dari lima desa tersebut mendapatkan prioritas penanganan dari pemerintah pusat.
“Ada tiga desa dalam zona kemiskinan di Kabupaten Tangerang, yakni Desa Pangarengan di Kecamatan Rajeg, Desa Pangkalan di Kecamatan Teluk Naga,
Desa Kiara Payung di Kecamatan Pakuhaji. Sementara, dua desa lagi yang tengah dilakukan program pembenahan dari pusat yakni, Desa Kronjo di Kecamatan Kronjo, dan Desa Kohod di Kecamatan Pakuhaji,” jelas Kirwan.
Tiga desa tak tertangani pusat, Kirwan menambahkan, pihaknya telah membuat program Desa Tuntas. Program tersebut, lanjutnya, menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, guna dilakukan peningkatan.
“Program Desa Tuntas dibuat pada tahun 2019 hingga 2023, untuk memprioritaskan pemberdayaan kemiskinan di lima desa, khususnya di tiga desa tersebut. Program itu akan dilaksanakan bersama oleh beberapa dinas. Sebelumnya dan sampai saat ini pun Pemkab Tangerang punya program Gebrak Pakumis (Gerakan Bersama Masyarakat Mengatasi Kawasan Padat, Kumuh, dan Miskin,” kata Kirwan.
Kirwan mengatakan, program Desa Tuntas dinilai selaras dengan program pemerintah untuk mengentaskan angka kemiskinan. Menurutnya, angka kemiskinan tidak hanya faktor ekonomi saja, melainkan juga pada karakter.
“Masih banyak warga yang dinilai mampu tapi mereka mengambil Raskin (beras untuk masyarakat miskin), itu kan enggak benar. Makanya, karakter itu juga harus diperbaiki melalui edukasi,” paparnya.
Pihaknya pun akan menggandeng bidang pendidikan untuk meliputi akses jarak ke sarana pendidikan dan modal soaial yang diartikan kebiasaan gotong royong di desa.
“Pemicunya sebagian besar karena faktor pendidikan yang rendah dan juga pekerjaan tak banyak,” ujarnya.(rik)
