Rawan Longsor di Setu, BPPT: Harus Ada Langkah Preventif

Palapanews.com- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) merekomendasikan Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) untuk melakukan langkah preventif mencegah timbulnya korban akibat pergerakan tanah alias longsor di Kecamatan Setu.

Diketahui, puluhan bangunan rumah di dua wilayah yakni Kampung Sengkol, Kelurahan Muncul dan Kampung Koceak, Kelurahan Kademangan pada Mei 2017 lalu rusak parah akibat terjadi bencana tanah longsor.

“Peneliti melihat di sekitar lokasi rawan longsor dari kurun waktu 2012 hingga 2014 pertumbuhan bangunan hunian dan warga sekitar terus mengalami peningkatan,” kata Kepala Bagian Program dan Anggaran Pusat Teknologi Reduksi Resiko Bencana pada BPPT, Nur Hidayat pada pertemuan yang digelar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel, Sabtu (18/3/2018).

Ia mengaku, kemiringan tanah di lokasi itu sangat curam, lebih dari 50 derajat sehingga sangat rawan terjadinya longsor susulan. Tanah longsor dapat diakibatkan dari beban bangunan dan penduduk terhadap tekanan permukaan tanah.

“Kami pernah mengusulkan kepada Dinas Pekerjaan Umum untuk melakukan kajian secara mendalam terkait kondisi permukaan bawah tanah di kedua wilayah ini,” tandasnya.

Hidayat menyebutkan, seperti dari hasil kajian yang telah dilakukan di Kampung Koceak. Di lokasi itu jarak antara kemiringan tanah yang di atasnya terdapat puluhan bangunan dengan permukaan jalan di bawahnya sangatlah dekat. Lapisan soil yang ada di bawah tanah dapat mempercepat terjadinya longsor.

“Ya apalagi pada musim penghujan seperti sekarang ini. Air akan lebih cepat meresap ke celah-celah bangunan, itu akan mempercepat terjadinya proses longsor. Dan OPD terkait harusnya hadir karena kebijakan anggaran ada di tangan mereka,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Selatan, Chaerudin menyatakan, rekomendasi dari BPPT ini selanjutnya akan segera disampaikan ke musyawarah pimpinan daerah. Faktor gerakan tanah dan banjir bandang di Kampung Sengkol terindikasi akibat beberapa penyebab.

“Gerakan tanah diperkirakan karena guyuran curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama,” jelasnya. Chaerudin tambahkan, hujan mengguyur pada saat dan sebelum kejadian sehingga mengakibatkan lima unit rumah rusak parah. Puluhan rumah lainnya yang berada persis di bawah tebing pun terancam diterjang longsor. Kemiringan lereng sangat curam, mencapai 35,5 – 55 derajat.

“Terlihat ada sifat fisik tanah pelapukan yang kurang padu (tidak kompak). Serta tanah pelapukan yang tebal lebih dari 2 meter. Rapuh dan sarang, sehingga mudah longsor,” terang Chaerudin. (kom/one)