Ditangkap, Oknum DPRD Nyabu Ngaku Dijebak

oleh -
Ilustrasi.
banner 300250
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Palapa News- Oknum anggota DPRD Kota Tangerang yang ditangkap lantaran kedapatan mengonsumsi sabu-sabu, Pabuadi mulai buka suara setelah lama mendekam di ruang tahanan Mapolres Jakarta Barat.
Melalui kuasa hukumnya, A Rachmat dibeberkan kronologis penangkapan versi politisi PDI Perjuangan itu. Dalam penjelasannya, Rachmat menyimpulkan adanya dugaan atau indikasi penyimpangan dan ketidakfairan pihak kepolisian, dalam hal teknis upaya penangkapan dan penahanan klien mereka.

“Jadi, saat itu klien kami tidak hanya seorang diri. Dimana, bahwa pada 2 Juli 2015 sekira pukul 20.00 WIB, klien kami mendapatkan undangan dari saudara DSP, untuk datang ke Hotel Fasion B,” ungkapnya.

Pabuadi pun akhirnya sampai ke lokasi dimaksud, dan sempat menikmati pertemuan itu hingga beberapa saat. Ketika sampai di lokasi, ternyata sudah ada beberapa wanita yang terlebih dahulu tiba.

“Setelah itu klien kami berpamitan pulang lebih awal dari mereka. Klien kami, pulang bersama teman wanitanya DNA. Tiba-tiba sesampainya di area parkir lantai 3 tempat parkir kendaraan, klien kami dihadang oleh beberapa orang laki-laki berbadan tegap dan mengaku sebagai anggota Polres Jakarta Barat,” tegas Rahmat.

Selanjutnya, para petugas langsung melakukan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap klien dan teman wanitanya itu. Tapi, saat itu tidak ditemukan apa-apa, termasuk penggeledahan di dalam mobil.

“Namun, para petugas memaksa klien kami untuk ikut ke Polres Jakarta Barat, dengan menggunakan kendaraan berbeda. Sesampainya di Mapolres, petugas meminta untuk diantar ke lokasi kos-kosan teman wanitanya, yakni di wilayah Karawaci, Tangerang,” bebernya.

Rachmat menyayangkan, ihwal tidak adanya sedikit pun upaya dari pihak kepolisian dimaksud, untuk menanyakan perihal yang mengarah kepada rekan-rekan kliennya, dimana saat itu, rekan-rekan Pabuadi masih berada di dalam room hotel.

“Jelas sudah tidak ditemukan barang bukti, kenapa ada pengembangan. Ketika hasil urine yang positif menjadi acuannya. Arah pengembangannya pun sama sekali tidak menyentuh ke dalam ruang, dimana klien kami, sempat singgahi bersama teman-temannya. Artinya, klien kami merasakan ada ketidakadilan dalam proses penegakan hukum, yang tengah dialaminya ini,” bebernya. (nai)

Komentar Anda

comments