Indonesia Mampu Membuat Baterai Lithium

oleh -
Konferensi Internasional Materials Sains dan Teknologi di Puspiptek.(bud)
Konferensi Internasional Materials Sains dan Teknologi di Puspiptek.(bud)
Konferensi Internasional Materials Sains dan Teknologi di Puspiptek.(bud)

Palapa News- Indonesia ternyata telah mampu menguasai teknologi baterai lithium, baterei yang digerakkan ion metal lithium (rumus kimia Li). Baterei itu bisa dimanfaatkan dalam berbagai bidang diantaranya untuk telepon seluler, mobil listrik, hingga baterai alat pacu jantung yang mampu bertahan hingga 20 tahun tanpa henti.

Hal itu terungkap dalam Konferensi Internasional Materials Sains dan Teknologi atau International Conference on Materials Science and Technology 2014 (ICMST 2014) yang berlangsung di Gedung Dewan Riset Nasional (DRN) Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), pada 13-14 Oktober 2014.

Konferensi internasional yang bertema “Innovation in Advanced Materials for Better World” itu digelar oleh Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

“Jika lima tahun lalu, ketika dikasih tau mengenai teknologi itu mungkin kita masih belum mengerti. Tapi sekarang, kita sudah menguasai teknologi itu,” ungkap Prof. Evy Kartini, Peneliti Utama Batan saat konferensi pers, Senin (13/10/2014).

Baterai sebagai satu daya masih menjadi persoalan serius dalam pengembangan dan produksi wahana transportasi. Bobot baterai, sebagai misal, masih mengambil hampir 35-50 persen bobot kendaraan listik.

“Jika menggunakan teknik neutron atom ringan maka lithium dan hidrogen dapat diidentifikasi. Teknik neutron bisa mengetahui pergerakan lithium. Setelah itu kita bisa memodifikasi,” papar Evy.

Batan sendiri telah berhasil memproduksi baterai dalam skala laboratorium yaitu prototype baterai pouch, yang berbentuk persegi dan baterai cylinder ukuran 18650. Sedangkan dalam skala produksi massal dilakukan LIPI.

Pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 100 miliar untuk pengembangan dan produksi baterai yang akan digunakan untuk mobil listrik itu. Batan mendapatkan dana sebesar Rp 20 miliar untuk pembuatan laboratorium dan pengembangan baterai, sedangkan LIPI mendapat Rp 80 miliar untuk produksi. Persoalannya dalam memproduksi baterai belum ditemukannya sumber Lithium, yang berasal dari batuan, karbonat dan air laut.

Sementara itu Prof. Djarot Wisunubroto, Kepala Batan menegaskan, teknologi baterai lithium sangatlah penting. Selain untuk peningkatan ketahanan energi baru dan terbarukan juga aplikasi yang sangat beragam baik untuk transportasi, peralatan elektronika, portable gadget, peralatan rumah tangga bahkan untuk pesawat puna, dan stasionary power.

“Peran material energi dan material padat ionic sangatlah penting, khsusunya di dalam pengembangan sumber energi baru dan terbarukan. Pengembangan baterai lithium untuk kendaran listrik dan peralatan elektronik sudah menjadi kebutuhan dunia,” ungkapnya.

Sejak diperkenalkan oleh Sonny pada 1990, teknologi baterai lithium berkembang sangat pesat dan telah menggantikan teknologi baterai sebelumnya yang berbasis Ni-Cd dan lead-Acid. Keuntungan dari baterai lithium karena mempunyai energi densitas yang lebih tinggi, lebih ringan dan lebih tahan lama dan dapat diisi ulang.(bud)

Komentar Anda

comments