Riset: Intervensi Nutrisi Bisa Pangkas Stunting hingga 34,5 Persen

Palapanews.com- Intervensi nutrisi padat gizi atau Nutrient-Dense Formula (NDF) dinilai berpotensi menjadi salah satu strategi efektif untuk menekan angka stunting dan berbagai masalah gizi pada anak di Indonesia. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa intervensi nutrisi dapat menurunkan prevalensi stunting hingga 34,5 persen.

Masalah malnutrisi pada anak masih menjadi tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Provinsi Banten masih mencapai 21,1 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia dan menghambat upaya mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Selain menghambat pertumbuhan, kondisi seperti stunting, wasting, dan underweight membuat anak lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi yang membutuhkan biaya pengobatan besar serta berdampak pada kualitas hidup jangka panjang. Karena itu, penanganan masalah gizi perlu dilakukan sedini mungkin melalui evaluasi medis dan intervensi nutrisi yang tepat.

Hasil penelitian berjudul “A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy” dipresentasikan oleh Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, dalam ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.

Muh. Akbar Bahar menjelaskan bahwa penelitian tersebut mengevaluasi dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula kepada anak-anak Indonesia yang mengalami masalah gizi.

“Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5 persen, wasting sebesar 72,7 persen, dan underweight sebesar 51,7 persen. Jika diterapkan secara luas, dampaknya diperkirakan dapat mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia,” ujarnya.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa perbaikan status gizi berpotensi mengurangi berbagai penyakit infeksi yang umum dialami anak dengan gizi kurang. Model penelitian memperkirakan penurunan kasus tuberkulosis (TB) sebesar 47,2 persen dan pneumonia sebesar 44,7 persen, atau setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan 1 juta kasus pneumonia.

Selain itu, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare diperkirakan dapat berkurang masing-masing hingga 2,6 juta kasus dan 2 juta kasus.

Menurut Muh. Akbar Bahar, kebijakan nutrisi tidak seharusnya dipandang hanya sebagai program bantuan pangan.

“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik. Karena itu, intervensi nutrisi perlu dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat yang menghasilkan manfaat kesehatan dan ekonomi secara bersamaan,” katanya.

Dari sisi ekonomi, penelitian tersebut memperkirakan pengurangan kasus penyakit dapat menghasilkan penghematan biaya pengobatan hingga Rp2,46 triliun untuk TB, Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk ISPA, dan Rp3,38 triliun untuk diare.

Analisis ekonomi kesehatan juga menunjukkan bahwa intervensi nutrisi memberikan manfaat kesehatan yang besar dengan biaya relatif rendah, bahkan hingga tujuh kali lebih baik dibandingkan ambang batas efektivitas biaya yang digunakan di Indonesia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemberian PKMK layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi penanganan malnutrisi anak.

Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FSRPH, menilai hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya berpotensi mencegah memburuknya dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan biaya pengobatan di masa depan. Bukti seperti ini penting untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih berbasis data dan berorientasi pada manfaat jangka panjang bagi anak-anak Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penggunaan PKMK untuk anak stunting dan malnutrisi harus tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta didukung bukti klinis dan ekonomi yang memadai agar intervensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak Indonesia.

Momentum peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni juga dinilai menjadi pengingat penting bahwa pemenuhan gizi anak merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial dan meningkatkan kualitas generasi mendatang.

“Pemenuhan gizi yang optimal merupakan fondasi untuk mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, sehat, dan mampu bersaing menyongsong Indonesia Emas. Karena itu, berbagai inovasi solusi nutrisi diharapkan dapat mendukung upaya pemenuhan gizi anak Indonesia dan mempercepat penurunan stunting,” kata Ray. (red)