Menanti Pemikiran Calon Wali Kota Tangerang

Palapanews.com- Kemajuan sebuah daerah sangat dipengaruhi oleh figur kepala daerahnya. Jika kepala daerahnya tidak punya visi dan misi yang membumi, tidak jelas target capaian kinerjanya tentang berbagai item pembangunan, dapat diduga, arah pembangunan akan menjadi sporadis, dan sebagian besar hanya untuk menjalankan rutinitas saja.

Bahkan, tidak sedikit yang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) nya habis hanya untuk kegiatan-kegiatan seremonial, yang tujuan praktisnya hanya untuk mendongkrak popularitas kepala daerahnya saja.

Penting untuk kita ketahui, apa yang akan dikerjakan oleh figur-figur yang berniat mencalonkan/ dicalonkan menjadi kepala daerah. Tahu apa mereka tentang berbagai permasalahan kota kita, dan bagaimana cara mereka menyelesaikannya.

Jadi, wacana kelayakan seseorang untuk menjadi calon kepala daerah/wakil kepala daerah itu, bagi kita seharusnya berangkat dari sehebat apa terobosan yang akan dia buat agar kota kita menjadi kota yang modern secara infrastruktur, sejahtera perekonomiannya, mumpuni SDM nya, dan terjaga baik akhlaqul karimahnya.

Untuk bisa merumuskan langkah terobosan itu, tentu para kandidat harus tahu kondisi existing berbagai hal yang menjadi indikator kemajuan sebuah daerah. Langkah awal yang harus dilakukan tentu membuka data statistik.

Sebagai contoh, mari kita buka data kemiskinan di Kota Tangerang, minimal tiga tahun terakhir yaitu dari tahun 2021 sampai 2023. Berdasarkan publikasikan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Kota Tangerang pada tahun 2021 adalah 134 ribu (5,93 %). Tahun 2022 turun menjadi 132 ribu (5,77 %,), dan tahun 2023 naik menjadi 137 ribu (5,89 %).

Ini adalah salah satu masalah yang harus dicarikan terobosan oleh para calon kepala daerah di Kota Tangerang. Sebab, 10 tahun terakhir ini, ratusan miliar telah digelontorkan oleh Pemkot Tangerang untuk mengurangi jumlah penduduk miskin, tetapi kenapa jumlah penduduk miskin malah meningkat di tahun 2023.

Untuk itu, para kandidat Pilwakot Tangerang 2024 harus bisa memaparkan cara mereka mengentaskan kemiskinan di Kota Tangerang. Dan, apabila kemudian rencana mereka untuk mengentaskan kemiskinan hanya sebatas dengan bikin program rehab rumah, menurut saya itu bullshit. Jangan pilih kandidat yang berpikiran dangkal seperti itu.

Contoh lain soal pengangguran, tahun 2023 menurut data BPS terdapat 6,76 % atau 145 ribu penduduk Kota Tangerang yang menganggur. Bagaimana membuat langkah terobosan untuk mengentaskan pengangguran di Kota Tangerang ?. Puluhan miliar APBD Kota Tangerang habis oleh program pelatihan kerja, tapi jumlah pengangguran tidak berkurang secara signifikan.

Nah, para kandidat harus dapat memaparkan secara gamblang langkah komprehensif seperti apa yang akan mereka buat untuk mengurangi pengangguran secara signifikan. Jika ada kandidat yang hanya berpikir bahwa pengangguran hanya dapat ditekan dengan kegiatan pelatihan di BLK dan pengadaan jobfair seadanya, maka jangan pilih dia. Itu juga bullshit. Terbukti berpuluh tahun dijalankan, angka pengangguran di kota kita tetap tinggi.

Lalu, bagaimana pula mencari solusi atas permasalahan keberadaan Sekolah Negeri yang tidak merata, yang menyebabkan sistem zonasi yang baik itu tidak bisa mengakomodasi keinginan warga untuk bersekolah di Sekolah Negeri, karena sangat terbatas jumlahnya di banyak wilayah, sementara di satu dua wilayah jumlahnya berlebih.

Hal tersebut disebabkan karena selama ini gedung sekolah dibangun secara sporadis, tidak berdasar kebutuhan per wilayah berdasarkan pertumbuhan usia sekolah. Bahkan sepanjang pengetahuan saya, Kota Tangerang belum memiliki Rencana Induk Pembangunan Gedung Pendidikan.

Jadi kita ingin tahu, apa yang ada di pikiran para kandidat agar gedung pendidikan tersebar secara proporsional sesuai kebutuhan warga di masing- masing wilayah. Lebih hebat, kalau mereka bisa menetapkan target pembangunan gedung pendidikan di setiap wilayah dalam kurun waktu 5 tahun kekuasaannya.

Terkait dengan pembangunan infrastruktur, perlu kita ketahui juga apa visi para kandidat dalam hal infrastruktur. Apa yang akan jadi fokus perhatian mereka. Atau mereka akan memandang bahwa infrastruktur di Kota Tangerang sudah beres, sehingga program infrastruktur ke depan disusun hanya berdasar bisikan orang dekatnya saja. Kalau begitu, bisa terjadi jembatan yang tadinya rata dan dibikin “mumbul” oleh pemimpin sebelumnya, ke depan akan diratakan kembali.

Masih cukup banyak persoalan yang harus diurai akar masalahnya secara mendalam untuk kemudian disusun upaya penyelesaiannya. Semoga saja forum uji visi-misi para kandidat akan banyak digelar secara informal oleh banyak pihak. Sungguh, kita ingin tahu, sejauh mana para kandidat memahami kota kita ini.

 

Oleh : Wawan Kuswanto