Obat Chloroquine Jadi Salah Satu Opsi Pengobatan untuk Covid-19

oleh -
Chloroquine. Foto: Shutterstock

Palapanews.com- Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona baru dengan nama SARS-CoV-2, telah dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020. Seiring dengan peningkatan kasusnya di berbagai belahan dunia, para ahli terus melakukan penelitian untuk mencari tahu obat serta vaksinasi yang dapat menyembuhkan Covid-19, salah satunya chloroquine. Benarkah obat ini mampu mengatasi pandemi ini?

Mengenal chloroquine, obat antimalaria sebagai potensi pengobatan COVID-19

Chloroquine phosphate, atau klorokuin fosfat, adalah obat yang umum digunakan sebagai pengobatan malaria, penyakit akibat parasit Plasmodium yang terbawa oleh gigitan nyamuk Anopheles. Obat antimalaria ini menjadi salah satu dari sekian banyak obat yang tengah ditelusuri efektivitasnya untuk pengobatan COVID-19.

Dilansir dari MedlinePlus, selain diresepkan untuk mengobati dan mencegah malaria, chloroquine juga dapat digunakan untuk mengatasi amebiasis. Amebiasis adalah infeksi parasit yang menyebabkan gangguan pencernaan.

Chloroquine sendiri memang sudah lama diketahui memiliki potensi antivirus. Bahkan, obat ini sedang dalam beberapa penelitian untuk mengobati HIV.

Berdasarkan informasi dari U.S. National Library of Medicine, obat ini mengandung senyawa yang membantu mengaktifkan, meningkatkan, atau mengembalikan fungsi sistem imun tubuh pada penderita HIV sembari mengganggu kembang-biak virus HIV dalam tubuh manusia.

Potensi antivirus dari chloroquine didasari pada kemampuannya mengubah keseimbangan asam-basa dalam sel tubuh manusia, sehingga menciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan virus.

Kemampuan itulah yang kemudian mendorong para ahli untuk mempertimbangkan efek chloroquine sebagai obat COVID-19.
Penelitian terhadap obat chloroquine masih terus dilakukan

Di tengah maraknya peningkatan kasus kejadian COVID-19, chloroquine termasuk dalam beberapa obat yang diteliti sebagai alternatif pengobatan penyakit ini.

Hingga saat ini, setidaknya telah terdapat lebih dari 10 uji klinis yang meneliti efektivitas chloroquine sebagai obat untuk melawan virus corona baru (SARS-CoV-2). Sebagian besar penelitian obat ini sebagai antiviral dilakukan pada hewan, serta pada sel di luar tubuh manusia (in vitro).

Salah satunya adalah riset terbaru yang dilakukan oleh sekelompok peneliti di Tiongkok sebagaimana dilansir dalam jurnal Cell Research. Riset tersebut meneliti pemberian chloroquine yang dikombinasikan dengan obat antivirus remdesivir.

Hasilnya, kombinasi dari obat chloroquine dan remdesivir terbukti efektif mengendalikan infeksi virus corona penyebab COVID-19. Kedua obat tersebut, terutama chloroquine, menunjukkan efek antivirus serta berpotensi memperbaiki sistem imun tubuh penderita yang terinfeksi.

Kendati demikian, belum ada keputusan yang menyepakati dosis efektif klorokuin dalam pengobatan dan pencegahan COVID-19. Beberapa penelitian menganjurkan pemberian klorokuin sebanyak 600 mcg, dan ada pula yang merekomendasikan 150 mg untuk pencegahan. Namun, pada dasarnya, hal ini belum bisa ditetapkan secara pasti.

Harapan untuk selanjutnya adalah, chloroquine dapat dijadikan sebagai opsi yang murah dan mudah didapat untuk menekan kasus kejadian COVID-19. Beberapa negara pun telah memasukkan klorokuin dalam protokol penanganan penyakit ini, mulai dari Tiongkok, Inggris, Korea Selatan, hingga Qatar.

Obat ini digunakan sebagai penyembuhan COVID-19 di negara-negara tersebut, yang dibuktikan dengan berkurangnya masa rawat penderita di rumah sakit. Namun, berdasarkan pedoman resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, obat klorokuin belum terdaftar sebagai pengobatan spesifik anti-COVID-19.

Sementara itu, efek samping konsumsi klorokuin untuk COVID-19 belum diketahui secara pasti. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai keamanan obat ini untuk pasien penderita COVID-19.

Akan tetapi, obat yang telah ditemukan sejak puluhan tahun lalu ini telah teruji secara klinis aman dikonsumsi untuk pasien penderita malaria. WHO juga sudah menetapkan chloroquine sebagai obat paling aman dan efektif dalam daftar obat esensial.
Selain untuk menyembuhkan, bisakah chloroquine digunakan sebagai obat pencegah COVID-19?

Tidak hanya digadang-gadang sebagai obat penyembuh, chloroquine juga diteliti sebagai obat untuk pencegahan infeksi coronavirus, serta penurun risiko kambuhnya penyakit COVID-19 pada pasien yang sudah sembuh.

Sebuah riset yang sedang dilakukan oleh University of Oxford tengah menguji penggunaan obat chloroquine untuk mencegah COVID-19 di fasilitas kesehatan.

Penelitian ini melibatkan 10.000 pekerja medis serta orang-orang yang berisiko terinfeksi coronavirus. Nantinya, para partisipan akan diberikan chloroquine atau plasebo (obat kosong) secara acak selama 3 bulan, atau hingga ada yang terinfeksi COVID-19.

Sementara itu, untuk efektivitas chloroquine dan remdesivir sebagai pencegahan COVID-19 masih belum dapat dipastikan.

COVID-19 adalah penyakit menular yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada tahun 2019. Per 22 Maret, angka positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 514 kasus dengan angka kematian 38 orang. (*)

Sumber: Hellosehat

Komentar Anda

comments