Diagnosa Penyakit Degeneratif, BATAN Ciptakan Produk Ini

Kepala BATAN, Gatot Wisnubroto (kiri) menunjukan produk kesehatan.

Palapanews.com- Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) memproduksi lima produk bidang farmasi. Produksi tersebut untuk mendiagnosis penyakit degeneratif, seperti, jantung, ginjal dan kanker.

Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan lima produk kesehatan yang diciptakan antara lain Kit MIBI yang berfungsi mendiagnosis fungsi jantung untuk mendeteksi penyakit arteri koroner dan mengevaluasi fungsi otot jantung.

Kit MDP yang berfungsi mendiagnosis tulang untuk mengetahui anak sebar tumor pada tulang. Kemudian DTPA, berfungsi mendiagnosis ginjal dengan melakukan pencitraan pada ginjal untuk menilai perfusi ginjal.

Selain itu, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Dm-EDTMP, obat berbentu cairan ini digunaan untuk terapi paliatif pada penderita kanker yang sudah metastasis serta Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG yang berfungsi mendiagnosis dan terapi pada kanker Neuroblastoma atau sistem saraf anak-anak.

“Pasar produk radiofarmaka menjadi peluang Indonesia untuk dapat mengekspor produk radiofarmaka ke luar negeri, khususnya ke negara Asia Tenggara sebagai langkah awal. Pasar ini diprediksi akan tumbuh 9 persen dalam lima tahun ke depan,” katanya saat memberikan keterangan pers di Puspiptek, Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Jumat (28/4/2017).

Teknologi nuklir, diakui Djarto dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk kesehatan terutama di bidang farmasi. Dalam hal ini produk tersebut sudah dimanfaatkan belasan rumah sakit yang sudah dilengkapi fasilitas dan dokter ahli.

“Kita juga bekerjasama dengan Kimia Farma dalam mengembangkan pemanfaatan nuklir untuk kesehatan,” Djarot menambahkan.

Meski demikian, menurutnya tidak banyak rumah sakit di Indonesia yang mempunyai kemampuan menggunakan teknologi nuklir untuk kesehatan.

“Memang ironi. Sebagian masyarakat yang mampu berobat ke luar negeri untuk pengobatan. Padahal, teknologi kesehatan kita juga bisa menanganganinya,” ujarnya. (kie)