BAINDO, Komunitas Wadah Bagi Pemain Badminton Amatir

oleh -
Roy M. Karamoy pendiri BAINDO berkaos orange kedua dari kiri bersama rekan komunitasnya. (ist)
Roy M. Karamoy pendiri BAINDO berkaos orange kedua dari kiri bersama rekan komunitasnya. (ist)
Roy M. Karamoy, pendiri BAINDO kedua kiri (kaos orange) bersama rekan komunitasnya. (ist)

Tangerang – BADMINTON AMATIR INDONESIA (BAINDO) mewadahi komunitas pehobi olahraga badminton amatir seluruh Indonesia yang ingin berprestasi di kalangan pebulu tangkis amatir. Tak hanya di level nasional turnamen badminton amatir juga banyak digelar hingga tingkat internasional.

BAINDO merupakan komunitas yang menyiapkan wadah untuk para pemain badminton amatir di Indonesia, untuk mewujudkan aspirasi & inspirasinya, berkompetisi secara setara. Dengan konsep menjunjung tinggi azas fairness (kesetaraan) dengan mengelompokan peserta pertandingan.

“Bukan saja dengan pengelompokan pemain amatir, tapi juga dengan pengelompokan usia dan skill permainan. BAINDO merupakan wadah yang akan mengkoordinasi secara profesional para pemain bulutangkis amatir,” ungkap Roy M. Karamoy, Founder BAINDO saat memperkenalkan komunitasnya kepada media di Gading Serpong, Senin (26/09/2016).

Badminton merupakan olahraga yang paling digemari oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Besarnya antusias masyarakat Indonesia terhadap badminton, membuat banyaknya klub badminton di Indonesia bermunculan. Selain para pemain profesional, terdapat pemain rekrasional yang biasa disebut sebagai pemain badminton amatir.

BAINDO didirikan oleh Roy M. Karamoy seorang pria kelahiran kota Manado dan pemain badminton amatir yang sangat menggemari permainan “Single”. Dia telah memenangkan berbagai kompetisi badminton amatir di dalam maupun luar negeri. Beberapa kejuaraan amatir di luarnegri seperti “Morning Cup” di Taipei dan Malaysia sebagai juara 1 dan di Thailand sebagai juara 3 kelas “Single” level professional di Sawasdee Cup, Pattaya, Thailand pada tahun 2014 dan tahun 2015. Dia juga berhasil meraih peringkat pertama kelas “Single” di level amatir di Thailand pada kejuaraan yang sama.

Melalui seluruh latar belakangnya di dunia badminton, Roy percaya bahwa terdapat puluhan ribu bahkan ratusan ribu pemain di Indonesia yang seperti dia. Hal ini yang memprakarsai terbentuknya BAINDO, sebagai wadah untuk mewujudkan aspirasi seluruh pemain amatir di Indonesia. Dengan harapan, hal ini dapat memfasilitasi para pemain amatir sehingga bisa menjadi perwujudan atas aspirasi pemain amatir pada badminton. Pada akhirnya dapat berimbas pada majunya perbulutangkisan Indonesia menjadi negara raksasa bulutangkis di dunia.

“Menurut kami, kehadiran badminton di Indonesia sudah mengakar diseluruh lapisan masyarat dan sulit untuk dipisahkan. Di Indonesia ini, jumlah populasi pemain badminton rekrasional Indonesia mencapai ratusan ribu bahkan lebih. Untuk itu BAINDO hadir sebagai wadah aspirasi dan inspirasi para pecinta pemain badminton amatir di Indonesia, khususnya di Jakarta, secara profesional,” tambah Roy.

Inilah tiga kategori kelas skill BAINDO :

Pertama Bronze yakni: para antusias badminton yang baru mulai belajar bermain badminton dan kelompok skill ini, dapat terlihat dari teknik memukul (hitting skill) yang masih tahap awal belajar, seperti; servis sangat tanggung, lob tanggung, gerakan footwork yang tidak beraturan.

Kedua Silver yakni: pemain badminton amatir yang bermain secara rutin setiap minggunya dengan kelompok bermain masing-masing, dan kelompok skill ini, memiliki kemampuan bermain yang memadai,  teknik memukul yang lancar seperti ; smash, lob, dropshot, dll.

Ketiga Gold yakni: pemain badminton amatir yang bermain secara RUTIN tiap minggunya dengan kelompok bermain masing-masing, memiliki skill  bermain yang lancar dan biasanya di atas rata-rata di kelompok bermainnya, aktif mengikuti turnamen-turnamen resmi maupun Tarkam, dan sudah dikenal di kalangan pemain badminton / Welknown player.

Adapun Ketentuan Umum pemain amatir meliputi; pemain badminton amatir, bukan ex atlit badminton nasional (pelatnas) juga bukan ex atlit badminton daerah (pelatda) atau pemain badminton rekreasional yang bermain badminton karena hobby, dan bermain di sela-sela waktu luang setelah pekerjaan rutinnya.

Sedangkan untuk ketentuan khusus mengatur mengenai pemain-pemain badminton yang pernah terdaftar di klub-klub resmi PBSI sebagai berikut; bukan juara Kejurkot prestasi – binaan klub-klub PBSI, bukan utusan Kejurkot ke Kejurprov prestasi – atlit binaan, dan bukan pemain ex binaan DIKLAT badminton atau yang setingkat dengan itu. (rls)

 

 

Komentar Anda

comments