Kota Tangsel Diarahkan Jadi Waterfront City

oleh -
Budayawan Jatnika Nanggamiharja saat menjadi pembicara. (nad)

Palapanews.com- Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai waterfront city. Ini menyusul keberadaan sembilan situ dan lima sungai yang bisa dijadikan sebagai hutan dan taman kota serta kampung wisata inovatif.

Sekretaris Dinas Tata Kota Bangunan dan Permukiman (DTKBP) Kota Tangsel, Mukoddas Syuhada mengatakan idealnya kota masa depan adalah kota yang dibangun oleh komunitas dengan difasilitasi Pemerintah dan didukung oleh swasta, akademisi dan lainnya. Berkaitan dengan waterfront city, komunitas akan dilibatkan dalam pembangunannya serta kegiatan di sekitar kawasan tersebut.

“Jadi Kota masa depannya kota tepi air berbasis komunitas dimana dapat menggerakan ekonomi masyarakatnya dengan berbagai kreativitas dan nilai sosialnya,” ujar Mukoddas saat Konferensi Internasional mewujudkan Kota tepi air dalam rangkaian perhelatan Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) di Graha Widya Bakti Puspiptek, Kecamatan Setu, Selasa (20/9/2016).

Lanjutnya kaitan dengan bambu pelestariannya dapat digunakan untuk mendukung waterfront city tersebut seperti dapat digunakan untuk membangun rumah oksigen yang ramah lingkungan, dapat ditanami dibantaran sungai sebagai hutan dan taman kota juga sebagai bahan membuat perahu yang dapat digunakan alat transportasi disekitar kawasan.

“Transportasi sungai dibuat untuk menghubungkan Kampung-kampung wisata di waterfront city,” jelasnya.

Sementara Jatnika Nanggamiharja budayawan yang juga Ketua Bambu Nusantara mengatakan, bambu secara budaya dan sejarah sudah terbukti bermanfaat untuk kehidupan manusia. Terlebih untuk mewujudkan Kota tepi air yang akan dibangun oleh Tangsel.

Jatnika meyakini, fatwa bambu yang dulu dilontarkan oleh Prabu Haur Kuning. putra Prabu Siliwangi dari istri ke-11. Prabu Haur Kuning yang hanya memiliki wilayah kekuasaan seluas 1.200 hektar mampu mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dari penanaman bambu.

“Tiga fatwa bambu itu menyebutkan, jika Nusantara ingin sejahtera, tidak dihinggapi penyakit menular, dan tidak dijajah, maka tiap keluarga minimal harus menanam 1.000 rumpun bambu. Melalui penanaman bambu, akan tercipta kesejahteraan, kesehatan, dan pertahanan negara,” ujarnya.

Jatnika mengaku sangat merasakan buah kesejahteraan karena bambu. Dari penanaman 1.000 rumpun bambu betung berumur lima tahun, misalnya, dia bisa memanen 20.000 batang bambu. Dengan harga jual Rp 30.000 per batang, Jatnika sudah bisa memperoleh Rp600 juta per panen, setahun sekali. (nad)

Komentar Anda

comments