Madrasah Anak Tiri Kota Santri

oleh -
Ilustrasi. (bbs)
banner 300250
Ilustrasi. (bbs)
Ilustrasi. (bbs)

SETIAP daerah tentu tak lepas dari sejarah dan peradabannya masing-masing, begitupun dengan Banten. Banyak peristiwa dan perkembangan yang terjadi hingga menorehkan bukti-bukti peradaban yang telah berlalu, sebuah wilayah yang terkenal dengan masyarakatnya sangat religius serta memiliki budaya yang amat kental sekali dengan corak islam. Makanya Banten acapkali di sebut-sebut sebagai kota santri. Hal ini memang, banyak pesantren dan lembaga pendidikan islam lainnya yang berkembang pesat dan menjadi rujukan pendidikan awal untuk membekali anak-anak generasi bangsa dengan ilmu-ilmu agama.

Tugas daerah yang menukangi serta memikul nama kota santri jelas harus lebih mengutamakan nilai-nilai religius, terutama bagi anak daerah sendiri.

Melihat era postmodern, teknologi semakin membuat karakter dan jiwa masyarakat Banten menurun terhadap minat pendidikan agama. Hal ini, bisa di lihat dari masyarakat yang lebih mengedepankan pendidikan umum di banding pendidikan agama. Akhirnya banyak kebrutalan lahir karna tanpa di landasi dengan bimbingan nilai dan moral agama, tapi karna sebuah kekuatan dan kekuasaan. Insiden seperti ini sudah mengakar menjadi aktifitas keharusan, tawuran antar pelajar yang berakibat banyak menelan nyawa. Tapi demikian tak menyurutkan budaya ini di kalangan pelajar. Bukan hanya sekolah yang berbasis umum, bahkan sekolah yang berbasis agamapun ikut andil meramaikan budaya ini.

Sungguh menyedihkan memang, kota santri yang mempunyai kultur agamis kotor oleh masyarakatnya sendiri. Kemudian tak sampai disitu, daerah yang di huni banyak ulama dan kyai kini seolah menjadi lahan pertandingan politik di kalangan pejabat. Koruptor mulai muncul ke permukaan satu persatu di tanah santri.

Peran Masyarakat

Menjadi warga berkultur religius memang menjadi suatu kebanggaan tersendiri, apalagi Banten yang di kenal sangat ramah kini berbalik jauh dari apa yang selama ini di junjung tinggi daerah. Slogan pada lambang daerah yang sangat di wanti-wanti menjadi karakter masyarakat hanyalah tinggal sebuah nama belaka. Memang hal ini, tidak terjadi pada semua daerah, akan tetapi dari berbagai penjuru timbul penistaan bukan hanya terhadap norma agama, norma sosial lainnya pun menjadi korban.

Tak bisa di pungkiri orientasi masyarakat sekarang lebih mengkiblatkan pada prospek kerja, akhirnya pendidikan agama menjadi nomor kesekian setelahnya. Hal ini bisa di lihat dari perkembangan arus pendidikan berbasis agama jauh lebih sedikit. Nah, ini bukan kesalahan yang mutlak terjadi, karna betul memang orientasi siapapun untuk memenuhi kebutuhan hidup yakni dengan jalan bekerja. Sokongan yang menjadi hambatan besar adalah di karenakan beberapa perusahaan masih mempertimbangkan calon pegawai yang beridentitas jebolan pendidikan basis Islam terutama madrasah dan pesantren.

Maka dari itu, sebagian besar orang tua lebih tertuju untuk pendidikan anaknya pada lembaga yang berbasis umum. Pendidikan madrasah adalah jalan terahir, ketika tak mampu bersaing dalam kompetisi masuk ke lembaga yang ternama dan sudah menjamin prospek kerja, dengan meyakinkan bahwa telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan besar.

Nasib Madrasah

Uraian di atas cukup jelas sebagai pengantar bagaimana gambaran nasib madrasah. Banten yang sudah banyak mengalami perkembangan terutama pada kultur dan karakter yang terus mengikuti arus zaman. Madrasah dan pesantren yang dulu menjadi ikon kebanggaan, tapi realita sekarang sudah menjadi anggapan kuno dan ketinggalan. Sebenarnya manakala berbagai pihak terus mengembangkan potensi madrasah dengan menyokong sarana dan prasarana yang memadai dengan tidak mengurangi esensi dari sebuah madrasah.

Karena demikian, banyak auto kritik keluar dari para pemuka agama di Banten. Pada tahun 2015 berita miris menerjang madrasah di berbagai daerah Banten. Ratusan bangunan madrasah ambruk yang di kutip oleh banyak media masa lokal di Banten.

Kemudian yang menjadi pertanyaan besar akan hal tersebut, apakah tangan pemerintah tak menyentuh sedikitpun ? Tentunya tak bisa di simpulkan begitu saja, akan tetapi sentuhan tangan yang kurang maksimal menjadi kemungkinan besar.

Kegelisan dan kebingungan timbul jika di bandingkan dari sektor ekonomi, madrasah lebih ringan apalagi jauh dengan sekolah yang berstandar Internasional, padahal pendidikan adalah hal yang terpenting dalam membentuk karakter-karakter anak bangsa demi terciptanya jiwa generasi yang tidak berbalik dengan nilai dan norma sosial.

Oleh karna itu, beberapa pemuka agama tidak ingin menghilangkan identitas Banten sebagai kota santri yang sekarang mulai banyak identitas baru karna maraknya perindustrian. Keseimbangan ini lah yang harus kita kedepankan di samping beberapa orang berorientasi pada kerja, tetapi tidak menghilangkan identitas dan ikon masyarakat Banten yang di kenal sangat religius. Madrasah adalah lembaga pendidikan yang lumayan tua di Indonesia, tapi hari ini menjadi jalan terakhir pendidikan masyarakat. (*)

Penulis: Nur Cholish Hasan, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah dan Kordinator Lapangan Koalisi Mahaaiswa UIN (KMU)

Komentar Anda

comments