2 SD Negeri di Panongan Disegel Ahli Waris

oleh -

PN- Ironis betul nasib anak-anak Sekolah Dasar Negeri (SDN) I dan II Panongan, Desa Panongan, Kecamatan Panongan Kabupaten Tangerang. Betapa tidak, 800 murid di dua sekolah tersebut terpaksa tak dapat belajar lantaran sekolahnya disegel, Senin (11/06/2012).

Pantauan di lokasi, pintu gerbang sekolah tersebut dipagari kawat besi, sehingga tidak dapat dibuka dari luar. Selain itu, di pintu gerbang dengan lebar dua meter itu juga terdapat tulisan besar berbunyi “Tanah Ini Milik Ibu Kasti.”

Dengan raut wajah kecewa, ratusan murid tersebut terlihat bergiliran pulang ke rumahnya masing-masing lantaran mendapati sekolahnya disegel. Widi Andrian salah satunya. Murid kelas IV A SDN I Panongan ini mengaku kecewa lantaran tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Pas saya masuk sekolah pagi, gerbang sekolah udah ditutup pakai kawat berduri. Jadi saya dan kawan-kawan bingung, dan akhirnya disuruh pulang sama bu guru,” ujarnya.

Widi berharap, agar sekolah tersebut jangan disegel. Alasannya, karena Widi masih ingin mendapatkan bimbingan dari para guru yang mengajar di sekolah tersebut.

“Kalau bisa sekolah kami jagan disegel apalagi katanya mau ditutup. Nanti kami mau sekolah di mana lagi, soalanya di sini cuman sekolah ini yang dekat rumah,” paparnya.

Salah seorang guru kelas V, Fitri, menambahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang harus segera menyelesaikan sengketa lahan yang terjadi. Pasalnya, ia tidak ingin kegiatan belajar mengajar di kedua sekolah tersebut terganggu.

“Kalau bisa secepatnya diselesaikan, karena kasian murid-muridnya. Mereka harus terkendala untuk melaksanakan kegiatan belajar,” katanya.

Menanggapi kasus tersebut, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Tamsur, mengatakan bahwa tanah seluas 1800 meter persegi tersebut merupakan aset milik Pemkab Tangerang. Faktanya, pada 1985 lalu pemilik tanah itu mengibahkannya untuk digunakan menjadi kawasan sekolah.

“Tanah ini di aset pemda sudah terdata sejak 1985, dan kami sedang memusyawarahkan ke pemilik tanah atas penyegelan pintu gerbang sekolah ini,” tuturnya.

Tamsur mengaku sebelumnya mendapatkan kabar dari warga sekitar bahwa pukul 22.00 WIB, gerbang sekolah sudah disegel. “Ada yang nelpon saya, katanya SDN Panongan disegel pagi saya cek ternyata benar,” tuturnya.

Sementara itu menurut ahli waris tanah Mursinah, tanah tersebut memang diibahkan untuk pembangunan sekolah, tapi pihaknya tidak mengetahui siapa yang menyegel sekolah tersebut.

“Kalau masalah siapa yang menyegel kami dari pihak keluarga tidak mengetahuinya. Soalnya tanah ini memang sudah sejak lama dihibahkan untuk sekolah,” tuturnya.

Sebaliknya, adik Mursinah, Asep mengatakan bahwa pihak Pemkab Tangerang pada 1985 membangun sekolah di tanah tersebut dan tidak meminta izin pada pihak keluarga.

“Dulu waktu pembangunan sekolah ini tadak ada izin ke kami, karena keluarga ibu saya banyak, jadi mungkin saja ada saudara saya yang mengakui tanah ini dan menyegelnya,” terangnya.

Sementara itu, menurut anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang, Sutoni, untuk di Kabupaten Tangerang memang masih ada beberapa sekolah SD yang lahannya masih dalam sengketa.

“Pihak Pemda, dalam hal ini Dinas Pendidikan harus segera menyelesaikan permasalahan lahan sekolah yang masih sengketa ini. Karena dampak ke depanya bisa mengahawatirkan, bayangkan kalau tiba-tiba sekolah itu ditutup oleh pihak yang mengaku pemilik sah atas tanah itu, maka dampaknya akan ke siswa,” ujarnya. (PN-1)

Komentar Anda

comments