Tawuran Bisa Hancurkan Masa Depan, Polisi Edukasi Remaja di Panongan

Palapanews.com- Tawuran masih kerap dianggap sebagian remaja sebagai ajang menunjukkan keberanian. Padahal, aksi tersebut justru mempertaruhkan masa depan. Di arena tawuran, tidak ada pemenang. Yang ada hanya dua kemungkinan, menjadi korban atau berakhir sebagai tersangka.

Pesan itu disampaikan Bhabinkamtibmas Desa Mekar Bakti, Kecamatan Panongan, Aiptu Polisi Antariksa, saat memberikan penyuluhan kepada anak-anak dan remaja di lingkungan Mekar Asri 2, Selasa (14/7/2026).

“Tawuran enggak ada enaknya. Enggak ada yang ngajak makan enak, yang ada hanya anarkis,” ujar Antariksa di hadapan para peserta.

Ia menegaskan, persoalan sekecil apa pun seharusnya diselesaikan melalui dialog, bukan dengan kekerasan yang menyeret banyak orang ke dalam konflik. Menurutnya, keputusan yang diambil karena emosi dapat meninggalkan penyesalan sepanjang hidup.

Selain berisiko menimbulkan luka berat hingga kehilangan nyawa, tawuran juga dapat memupus cita-cita para pelakunya. Cedera permanen, kata Antariksa, bisa menggugurkan peluang menjadi anggota Polri, TNI maupun profesi lain yang mensyaratkan kondisi fisik prima.

Tak hanya itu, pelaku tawuran juga terancam berhadapan dengan proses hukum. Mereka dapat dijerat Pasal 170 KUHP tentang kekerasan secara bersama-sama di muka umum dengan ancaman pidana hingga 5 tahun 6 bulan penjara, bahkan mencapai 12 tahun apabila mengakibatkan korban meninggal dunia.

Selain Pasal 170 KUHP, pelaku juga dapat dikenakan Pasal 358 KUHP tentang perkelahian, Pasal 351 KUHP mengenai penganiayaan, hingga Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 apabila membawa senjata tajam dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Sementara bagi pelaku yang masih berusia anak, proses hukum tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Ketua RT 02 RW 06, Joko Prasetyo, selaku penggagas kegiatan, mengatakan penyuluhan tersebut penting sebagai langkah pencegahan sejak dini. Menurutnya, edukasi tidak hanya ditujukan kepada anak-anak dan remaja, tetapi juga menjadi pengingat bagi para orang tua agar lebih aktif mengawasi pergaulan anak.

Senada, tokoh warga Mekar Asri 2, Widi Hatmoko, mengajak generasi muda membangun budaya saling menghormati dan tidak mudah terprovokasi. Ia berharap penyuluhan serupa dapat dilakukan secara rutin sebagai upaya membangun karakter sekaligus memperkuat sinergi antara kepolisian, orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam mencegah tawuran.

“Keberanian bukan diukur dari siapa yang paling berani mengayunkan senjata atau melempar batu. Keberanian yang sesungguhnya adalah mampu menahan emosi, menolak ajakan tawuran, dan menjaga masa depan,” ujarnya. (red)