Tangsel Gerakkan Seluruh RW Berburu Kasus TBC

Palapanews.com- Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) mengubah strategi penanganan tuberkulosis (TBC) dengan melibatkan masyarakat hingga tingkat Rukun Warga (RW). Melalui gerakan RW Bebas TBC, warga didorong menjadi garda terdepan dalam menemukan kasus sejak dini sekaligus menghentikan rantai penularan penyakit tersebut.

Program yang dijalankan melalui Dinas Kesehatan Kota Tangsel itu menitikberatkan pada kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, hingga warga. Pendekatan berbasis lingkungan dinilai menjadi kunci mempercepat eliminasi TBC yang masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia.

Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menegaskan keberhasilan mengendalikan TBC tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penentu agar kasus dapat ditemukan lebih cepat dan pasien menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.

“Eliminasi TBC bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan, tetapi merupakan gerakan bersama. Melalui program RW Bebas TBC, kami ingin membangun kepedulian masyarakat agar semakin mengenali gejala TBC, tidak ragu memeriksakan diri, serta mendukung pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan mempercepat tercapainya eliminasi TBC di Kota Tangsel,” ujar Benyamin, dalam keterangan yang diterima, Kamis (9/7/2026).

Dalam implementasinya, warga didorong lebih aktif mengenali gejala TBC, terutama batuk yang berlangsung lama, mengajak penderita memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, serta memberikan pendampingan agar pasien disiplin menjalani terapi hingga dinyatakan sembuh.

Selain menggerakkan masyarakat, Pemkot Tangsel juga memperkuat langkah pencegahan melalui peningkatan layanan di fasilitas kesehatan, pelacakan kontak erat, edukasi kesehatan secara masif, penguatan kapasitas kader, hingga koordinasi dengan pemerintah wilayah mulai dari tingkat RT dan RW.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan penemuan kasus lebih awal sekaligus mengurangi stigma terhadap penderita TBC, sehingga mereka tidak takut memeriksakan diri maupun menjalani pengobatan.

Benyamin menilai dukungan keluarga dan lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan terapi pasien. Karena itu, ia mengajak masyarakat menghentikan diskriminasi terhadap penderita TBC dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung proses penyembuhan.

“Untuk itu, saya atas nama Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menghapus stigma terhadap TBC. Penyakit ini dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara disiplin sesuai anjuran tenaga kesehatan,” pungkasnya. (red)