RIS UMN Gelar Peluncuran Buku dan Dialog Intelektual Bertajuk “Words from Our Lecturers”

Palapanews.com – Peluncuran Buku dan Dialog Intelektual di Kampus UMN berlangsung menarik. Mengusung tema Words from Our Lecturers acara berlangsung Rabu, 21 Mei 2025 di Lecture Theatre, New Media Tower – UMN, Tangerang, Banten.

Event ini, diselenggarakan oleh Departemen Publikasi dari Divisi Research, Innovation, and Sustainability (RIS) Universitas Multimedia Nusantara (UMN), berkolaborasi dengan Penerbit Buku Kompas (PBK).

Hadir sejumlah akademisi, para penegak hukum, dan kepolisian serta masyarakat umum di acara yang bertujuan untuk memberikan apresiasi dan ruang publikasi kepada para dosen yang telah menulis buku, baik buku teks maupun buku ajar ini.

Ada dua buku yang diluncurkan dan dibedah buku yakni buku berjudul Selisik Linguistik Forensik: Menjadi Bintang di Ruang Sidang karya Dr. Niknik M. Kuntarto, M.Hum dan Buku Beyond Borders: Communicating Global Brands in the Digital Age karya mahasiswa S-2 Mikom – UMN. Hadir juga dua editor buku tersebut yakni Dr. Arsa Widitiarsa Utoyo, M.Sn  dan Dr. Agustinus Rusdianto Berto, M.Si.

Setelah peluncuran buku dilanjutkan dengan sesi bedah buku yang dipimpin oleh moderator Dr. Kristina Nurhayati, M.I.Kom. bersama Dodi Mawardi sebagai narasumber. Diharapkan dari acara ini, dapat menjadi inspirasi bagi dosen lain untuk mulai, atau teru berkarya.

Turut hadir dalam pembukaan acara, Rektor UMN, Dr. Ir. Andrey Andoko, M.Sc., beserta Prof. Friska Natalia, Ph.D sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Internasionalisasi,  Prof. Dr. Florentina Kurniasari, S.Sos., MBA., sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Keberlanjutan, dan Dr. Ika Yanuarti, S.E., M.S.F, CSA sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Employability & Kewirausahaan.

BACA JUGA : Halal Bihalal UMN Bersama Media, Ini Info Program Terbaru di UMN

Menurut Manajer Publikasi UMN  Jansen Wiratama, kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen UMN dalam mendorong produktivitas menulis buku di kalangan dosen UMN. Tidak hanya sekadar menulis, acara ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas karya dan membuka peluang publikasi bersama penerbit bereputasi, seperti Penerbit Buku Kompas.

Sementara itu, Niknik M. Kuntarto menjelaskan bahwa buku serial yang ia tulis berisikan pengalamannya sebagai seorang ahli bahasa selama sepuluh tahun dalam menangani kasus-kasus bahasa sebagai penyebab konflik komunikasi.

Buku yang diluncurkan ini merupakan serial dari buku sebelumnya berjudul Selisik Linguistik Forensik: Penanganan Konflik Komunikasi. Perbedaannya terletak pada fokus pembahasan. Jika sebelumnya fokus pada analisis bahasa setiap kasus dan cara menjadi ahli bahasa, buku ini berfokus pada penampilan seorang ahli bahasa di ruang sidang.

Buku ini menyajikan kasus-kasus yang ditulis dengan gaya naratif yang imajinatif, tetapi tetap berakar pada realitas hukum Indonesia. Dari kasus penghinaan digital, kekerasan verbal, hingga pelecehan seksual, semuanya diurai dengan metode linguistik forensik yang aplikatif dan mudah dipahami. Ini bukan sekadar kumpulan teori, melainkan jembatan antara akademik dan praktik nyata di ruang sidang.

Buku ke-54 karya Beliau ini menegaskan bahwa ahli bahasa memiliki peran yang sangat vital dalam penegakan hukum, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan ujaran, makna ganda, hingga pencemaran nama baik. Penulis tidak hanya membahas sisi teknis, tetapi juga tantangan etis dan legitimasi keahlian—misalnya soal sertifikasi ahli yang masih menjadi persoalan struktural di Indonesia.

Sebagai narasumber dalam acara bedah buku, Dodi Mawardi, penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, mengatakan bahwa selain cover dan ilustrasi yang sangat berkarakter, gaya kepenulisan Niknik M. Kuntarto sangat unik karena berbicara tentang sesuatu yang cukup berat: kasus bahasa dan hukum, tetapi disampaikan secara ringan, dengan gaya storytelling sehingga buku ini menjadi menarik dan mudah dipahami.

Gaya bahasa yang inklusif, latar kerajaan yang alegoris, dan narasi yang mengalir menjadikan buku ini bisa dibaca oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, penegak hukum, bahkan masyarakat umum. Buku ini juga mendorong kita untuk berhati-hati dalam menggunakan bahasa, terutama di ruang digital, karena kata-kata bisa jadi alat pembelaan, tapi juga senjata pemusnah.

bedah buku

BACA JUGA : Kampus UMN Gelar UCIFEST 16, Catat Ini Rundownya

Sementara buku berjudul  Beyond Borders: Communicating Brands in the Digital Age  yang dieditori oleh  Arsa Widitiarsa Utoyo dan Agustinus Rusdianto Berto. Buku ini memuat 21 artikel yang merupakan hasil karya kolaborasi mahasiswa Batch 5 Magister Ilmu Komunikasi, UMN, luaran dari mata kuliah Communication & Global Brand pada semester Genap 2023-2024 lalu.

Isi buku ini menyoroti penerapan strategi komunikasi pemasaran dari brand-brand global untuk melampaui batas budaya, geografis, dan teknologi. Mata kuliah ini merupakan kelas internasional hasil implementasi kerjasama antara MIKOM UMN dan Graduate School, University of the East (UE) Manila, Philippines.

Selain diikuti oleh mahasiswa dari kedua universitas tersebut, matakuliah ini juga diisi oleh tim teaching dari berbagai mitra UMN, seperti: Faculty of Communication and Media Studies, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Syah Alam; Agricultural and Applied Economics at the University of the Philippines-Los Banos (UPLB); dan De La Salle University, Manila.

Kemudian juga Department of Marketing Communication and PR Institute of Communication Studies and Journalism Faculty of Social Science Charles University, Communication Studies Program; Faculty of Business Administration and Communication, Universitas Katolik Atma Jaya (Unika Atma Jaya) Jakarta; Communication Studies Program, Faculty of Social & Political Science, Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta; dan University of Liberal Arts Bangladesh (ULAB).

Rektor UMN menyampaikan bahwa acara ini lebih pada memotivasi para dosen untuk produktif dalam menulis buku secara terbuka, keilmuannya dapat diketahui secara umum. Andrey Andoko juga berharap menjadikan acara peluncuran buku ini sebagai budaya akademik tahunan agar para dosen memiliki target menulis buku dan dapat berkolaborasi dengan penerbit yang bereputasi, baik secara nasional maupun internasional. (rls/bd)