Rumah Aman Tangsel, Tempat Sementara yang Jadi Harapan Korban Kekerasan

Palapanews.com- Bagi NE dan AH, dua anak yang menjadi korban kekerasan di Tangerang Selatan (Tangsel), keberadaan rumah aman bukan sekadar tempat singgah. Di balik dinding sederhana itu, ada perlindungan, pemulihan, sekaligus harapan baru untuk melanjutkan hidup yang sempat hancur karena kekerasan orang terdekat.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel menegaskan komitmennya dengan menyiapkan rumah aman sebagai tempat perlindungan sementara bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Di sini, mereka bukan hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga pendampingan psikologis, pendidikan, hingga jaminan kesehatan.

Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya serius pemerintah dalam menekan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kita sudah punya rumah aman ini sebagai bentuk perlindungan bagi korban. Upaya pemulihan psikologis mereka akan terus didampingi selama dibutuhkan,” ujar Benyamin, dalam keterangan yang diterima, Sabtu (23/8/2025).

Saat ini, dua anak tengah menjalani pemulihan di rumah aman milik UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Tangsel. Kasus pertama menimpa NE, seorang anak perempuan yang dianiaya ibu tirinya. Berkat laporan sekolah, NE kini mendapatkan konseling intensif. Sementara kasus kedua dialami AH, 15 tahun, korban pencabulan ayah sambungnya. Dengan kondisi orang tua kandung yang telah tiada, AH kini ditempatkan di rumah aman untuk memastikan hak-haknya tetap terpenuhi.

“Ini untuk memudahkan pemantauan dan memastikan hak pendidikan, kesehatan, dan hidup anak tetap terpenuhi,” ujar Kepala UPTD PPA Tangsel, Tri Purwanto.

Pemkot Tangsel juga membuka akses aduan melalui hotline Tangsel Siaga 112 yang beroperasi 24 jam, serta menggandeng aparat penegak hukum dalam penanganan kasus. Tidak hanya itu, pemerintah bersama aparat juga tengah menyiapkan sanksi sosial bagi pelaku, termasuk usulan hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual.

Dengan langkah ini, rumah aman bukan hanya sekadar fasilitas pemerintah, tetapi juga simbol keberpihakan kota Anggrek terhadap warganya yang paling rentan: perempuan dan anak. (red)