Antisipasi Kebutuhan Listrik Meningkat, Pemerintah Maksimalkan EBT

oleh -
Pemerintah kembangkan EBT. Foto: Nad

Palapanews.com- Keberadaan sumber energi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bukan menjadi pesaing dari sumber energi listrik yang ada saat ini, justru menjadi pelengkap dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (BATAN), Agus Sumaryanto menjelaskan, kebutuhan energi listrik yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka kebutuhan akan energi listrik juga meningkat.

“Selama ini sumber energi listrik di Indonesia didominasi oleh sumber energi fosil yang dapat meningkatkan emisi karbon, sehingga Indonesia bersama beberapa negara di dunia bertekad untuk mengurangi emisi karbonnya,” jelasnya dalam International Conference on Nuclear Energy Technologies and Sciences (ICONETS) di Kawasan Nuklir Serpong, Puspiptek, Tangsel, Rabu (8/9/2021).

Pada tahun 2030, Indonesia akan menurunkan emisi karbon sebesar 1,02 miliar ton atau setara dengan 41 persen dan PLTN merupakan salah satu pembangkit listrik yang tidak mengeluarkan emisi karbon.

“Untuk mengantisipasi kebutuhan energi listrik yang terus meningkat itulah, pemerintah berupaya memaksimalkan sumber energi baru dan terbarukan (EBT). Dalam hal ini, nuklir dimasukkan ke dalam kelompok EBT yang nantinya diharapkan dapat berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional,” lanjut Agus.

Pemerintah menargetkan hingga tahun 2025, EBT berkontribusi sebesar 23 persen yang di dalamnya terdapat PLTN. Di sini nuklir menjadi bauran energi dengan yang lainnya, dan jangan salah mengerti bahwa nuklir itu menjadi pesaing, justru namanya baruan energi, satu dengan yang lainnya saling mengisi.

“Andaikan PLTN dibangun bukan berarti nuklir menggantikan sumber energi listrik lainnya, justru nuklir akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam membantu pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional. Oleh karenanya nuklir harus segera menjadi pertimbangan sebagai sumber energi listrik yang bersinergi dengan sumber energi listrik lainnya untuk memenuhi kebutuhan energi listrik nasional,” ungkapnya.

Hal senada dikatakan Perekayasa Utama BATAN, Dhandhang Purwadi, PLTN tidak seperti energi bauran lainnya yang bersifat intermittent atau tergantung situasi. Misalnya pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga angin, sangat bergantung pada kondisi sinar matahari dan angin yang berhembus.

“Perlu harmonisasi antara PLTN dengan sumber energi listrik lainnya, artinya bagi daerah-daerah yang menggunakan listrik tenaga surya misalnya dapat dibantu dengan PLTN skala kecil. Jadi apabila listrik tenaga surya kurang optimal karena cuaca maka PLTN menggantikan pasokan listriknya,” kata Dhandhang.

Namun demikian, kekhawatiran masyarakat terhadap kesiapan Indonesia dalam membangun PLTN baik dari sisi sumber daya manusia maupun penguasaan teknologinya menjadi tantangan tersendiri bagi para pemangku kepentingan. (nad)

Komentar Anda

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.