Dampak Covid-19, Okupansi Hotel dan PAD di Tangsel Terjun Bebas

oleh -
Sepi, salah satu hotel di Kota Tangsel. Foto: Nad

Palapanews.com- Sektor Pariwisata merupakan salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar bagi Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Jika seharusnya telah mencapai 45 persen, PAD saat ini baru mencapai 25 persen.

Sektor bisnis termasuk perhotelan kini terlihat sepi lantaran banyak lembaga, instansi pemerintah dan swasta mengeluarkan edaran untuk tidak mengadakan pertemuan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kota Tangsel, Gusri menjelaskan penurunan okupansi drastis yang terjadi pada hotel di Tangsel mencapai 42 persen.

“Memang sudah turun sampai 42 persen sekarang. Waktu awal awal isu ini sudah menurun 25 sampai 35 persen, akan tetapi 3 hari ke belakang makin melorot bisa mencapai 45 persen dan ini terjun bebas,” ujarnya, Selasa (17/3/2020).

Ia meminta kepada Pemkot Tangsel agar ada suatu kebijakan untuk membantu PHRI Tangsel yang concern di bidang pariwisata Kota Tangsel karena memang pariwisata menjadi salah satu penyumbang retribusi tinggi untuk PAD Kota Tangsel.

“Selama ini PHRI Tangsel sudah secara riil membantu memberikan retribusi bagi pemerintah daerah dan semoga ada perhatian kepada kami dengan ada kebijakan yang bisa membantu perekonomian kembali normal,” ungkap Gusri.

Lanjut Gusri bahwa PAD Kota Tangsel dari sektor pariwisata sebangak 378 Miliar yang harusnya pada saat ini sudah memiliki penerimaan sebesar 45 persen. Akan tetapi hal itu urung terlaksana karena okupansi hotel yang turun.

“378 miliar total kontribusinya dan harusnya penerimaan saat ini di antara 45 persen sekarang baru 25 persen saja,” bebernya.

Sementara itu, Assistant Director of Sales Swiss-Belhotel Serpong, Fanny Prasilia mengatakan bahwa hari ini dan kemarin okupansi masih di angka 80 persen. Akan tetapi lanjut Fanny mulai besok okupansi akan drop.

“Kalau dari data kita okupansi besok di sini hanya 28 persen saja. Tentu ini dampak dari berita dan surat edaran bahwa setiap lembaga, corporate, dan pemerintahan yang tidak boleh melakukan kegiatan dan berkumpul,” pungkas Fanny. (nad)

Komentar Anda

comments