Lebaran 2019, Pengguna Jasa Penerbangan Naik 3 Persen

oleh -

Palapanews.com- Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, perkiraan puncak arus mudik Lebaran 2019 menggunakan transportasi udara terjadi pada Jumat, 31 Mei 2019. Ia optimis pemudik akan mengalami peningkatan sebesar 3 persen.

“Tanggal 31 (Mei) puncaknya. Kenaikan penumpang juga ada kenaikan kira-kira 3 persen, jadi saya mengharapkan dengan kenaikan ini kita harus naikkan lagi,” ujar Budi yang didampingi Menteri Kesehatan Nila Moeloek saat meninjau Posko Terpadu Mudik Lebaran 2019, di Terminal 1B Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 26 Mei 2019.

Budi menjelaskan, angka peningkatan tersebut berbeda jauh dengan tahun 2018 yang prediksi peningkatan jumlah penumpangnya mencapai 10 persen. Lanjutnya, angka 10 persen itu merupakan rata-rata peningkatan jumlah penumpang di seluruh bandara di Indonesia pada musim mudik 2018, sedangkan khusus bandara di wilayah Barat Indonesia termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kenaikan mencapai 6 persen.

“Selain itu, dari trend yang ada beberapa hari ini akan ada pertumbuhan junlah penumpang yang semula itu 1.300 take off-landing akan menjadi 1.470 take off-landing per hari, diharapkan akan ada kenaikan 1-2 persen,” jelasnya.

Budi menilai PT Angkasa Pura II telah siap menghadapi periode arus mudik Lebaran 2019. Hal itu terlihat dari aktivitas perjalanan pesawat jelang mudik juga terbantu dengan adanya Airport Operation Control Center (AOCC) di mana seluruh aktivitas bandara bisa terpantau semua melalui CCTV.

Budi menuturkan, lebaran kerap menjadi momen warga Jakarta untuk pulang ke kampung halamannya, sehingga membuat Jakarta sepi dari biasanya. Dirinya pun meminta pihak maskapai untuk menyediakan promo menarik dan diskon agar bisa menggaet para pelancong berwisata ke Jakarta. Baginya hal itu membuat penerbangan menjadi produktif sekaligus menghidupkan sektor pariwisata.

“Jadi saya menganjurkan kepada maskapai, apakah memberikan tarif khusus entah itu promosi, sehingga ini bisa dioptimalkan dan bisa produktif, kegiatan wisata bisa baik,” katanya.

Budi membaca fenomena tersebut dari data penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. Ia menambahkan, angka penerbangan dari Jakarta ke luar cukup tinggi. Sedangkan sebaliknya, penerbangan dari luar Jakarta menuju Jakarta masih sedikit.

“Satu fakta yang terjadi adalah, apa yang terjadi dari Jakarta ke luar hampir 100 persen, tapi dari luar daerah menuju Jakarta itu hanya 60 persen,” paparnya.

Budi melihat data tersebut sebagai peluang untuk masyarakat berkunjung ke kota metropolitan itu untuk berwisata ataupun kegiatan lainnya.

“Nah kekurangan low factor ini adalah sebenarnya satu potensi yang bisa digunakan oleh masyarakat melakukan kegiatan wisata atau kegiatan lain menuju Jakarta,” katanya.(rik)

Komentar Anda

comments