Entong C-more, Maskot Baru Kota Tangsel

oleh -
Maskot Tangsel, Entong C-more bersama Walikota Airin Rachmi Diany dan Wakil Walikota Benyamin Davnie. Foto: Ist

Palapanews.com- Menjelang perayaan HUT ke-10 Kota Tangerang Selatan (Tangsel), pemerintah daerah setempat meluncurkan maskot anyar bernama Entong C-more. Maskot ini berseragam lengkap khas betawi, yang merupakan budaya suku mayoritas di kota ini.

Kepala Bidang Humas dan Pengelolaan Informasi pada Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Tangsel, Irfan Santoso mengatakan dalam rangka HUT Tangsel ke-10 Pemerintah Kota meluncurkan sebuah maskot untuk menambah kesan tersendiri atas berbagai kemeriahan perayaan hari jadi kota dengan moto Cerdas, Modern dan Religius.

Secara filosofi maskot perayaan HUT Kota Tangsel, yang diberi nama Entong C-more ini merupakan refleksi dari pencapaian target pembangunan berupa human index yang digambarkan oleh sosok Entong C-more.

“Nama Entong C-more sendiri diangkat dari akar budaya masyarakat lokal kota Tangsel, yang kalau menyapa anak usia remaja berkisar 10 -17 tahun dengan sebutan “Entong”. Sementara C-more, merupakan makna dari cerdas, modern dan religious, yang menjadi motto kota ini. Selain nama, pakaian yang dikenakan Entong C-more, juga memiliki makna filosofi tersendiri,” katanya.

Peci, sarung, celana pangsi dan ikat pinggang, serta jas dan dasi yang dikenakan Entong C-more, menurut Irfan menandakan kuatnya kultur budaya lokal Tangsel, yakni kultur budaya Betawi yang mewarnai penampilan Entong, maskot kota Tangsel ini.

“Kecerdasan, kemodernan dan kereligiusan serta unsur nasionalisme juga melekat pada penampilan Entong C-more. Warna merah dan putih, pada kemeja dan dasi yang dikenakan Entong melambangkan warna bendera kebangsaan kita Indonesia Raya,” tambahnya.

Irfan berharap dengan hadirnya maskot Entong C-more pada semarak perayaan HUT ke-10 Kota Tangsel yang telah dimeriahkan dengan berbagai kegiatan selama satu bulan penuh ini, maskot HUT kota Tangsel ini dapat memikat sekaligus mengingatkan semua pihak untuk lebih mencitai budayanya, yang tidak bisa dipungkiri perlahan-lahan mulai tergerus oleh arus globalisasi. (hms/one)

Komentar Anda

comments