Retorika Politik Arsid

oleh -
Baliho pasangan calon di Bundaran Maruga, Ciputat. (one)
Baliho pasangan calon di Bundaran Maruga, Ciputat. (one)

BOLEH saja Arsid percaya diri untuk memenangkan Pilkwalkot Tangsel 9 Desember nanti. Sebabnya jelas, Arsid mengklaim mendapat dukungan signifikan dari para pendukungnya yang kebanyakan loyal padanya sejak Pilkada 2010 lalu.

Kepercayaan diri yang besar tentu saja modal bagi seorang politisi. Apalagi Arsid bukanlah “orang baru” di kancah Pilkada Tangsel sejak dua kali terselenggara. Arsid adalah contoh betapa politik begitu seksi dan terbius untuk memenangkannya melalui segala cara.

Sekilas tak ada yang salah memang. Majunya Arsid bersama pasangannya bukan hal baru. Sebab jauh-jauh hari nama bekas Camat Serpong ini santer tersiar maju sebagai penantang petahana yang juga lawannya di masa Pilkada pertama.

Arsid maju menggunakan kendaraan PDIP dan Hanura. Dua partai yang lolos dan menghantarkan Arsid ke gelanggang pertarungan Pilkada.

Arsid makin “pede” memenangkan pilkada karena didukung oleh partai penguasa PDIP baik di pusat dan Banten. Tidak cukup di situ. Arsid makin “topcer” karena “rivalnya” sedang bermasalah. Dan masalah inilah yang kemudian dilihatnya sebagai peluang. Ibarat pepatah pasangan ini memancing di Air Keruh.

Arsid dan timnya mencoba menokohkan dirinya sebagai jalan keluar dari beragam problematika yang terjadi di Tangsel. Arsid mengaku dirinya “putih” dan “paham” masalah Tangsel. Namun, apakah “putih” yang dimaksud Arsid adalah suci dan bersih?

Di sini menarik untuk dikaji. Dalam kajian retorika politik, Arsid tentu ingin menyatakan bahwa dirinya bersih. Bersih seperti apakah Arsid itu? Apakah yang dimaksud dengan bersih berarti tidak memiliki dosa dan cacat baik secara moral dan hukum selama dirinya menjadi birokrat, misalnya?

Apakah “track record” Arsid putih dan bersih sebersih klaim secara retoris yang ia usung selama ini di masyarakat? Bagaimana mungkin seorang Arsid menjadi “orang suci” di tengah kepungan rakusnya aparat dan birokrasi yang identik dengan nepotisme, korupsi dan kolusi seperti yang disaksikan pada layar kaca jutaan masyarakat Indonesia?

Siapa yang bisa menjamin dan menggaransi bahwa Arsid manusia “putih” dan mampu membawa perubahan pada Tangsel? Apakah tim sukses? partai politik pengusungnya? mantan “bos” Arsid di Kabupaten Tangerang? Atau siapa??? Standarisasi Etika Marilah kita kompromi pada diri sendiri.

Pada akhirnya setiap calon Wali dan Wakil yang maju pada Pilkada Tangsel punya masa lalu dan masalah. Tidak ada yang bersih dan putih sebagaimana jargon yang selama ini didengungkan.

Jika ingin melakukan perubahan maka niat awal yang seharusnya diusung bukanlah kemunafikan. Meski dalam politik kontemporer Indonesia pemimpin munafik seperti itu sedang menjadi keutamaan dan trend politik yang digandrungi.

Melalui logika ini akhirnya kita harus menstandarkan etika bagi para calon walikota yang sedang bertarung saat ini. Tidak ada pemimpin yang “bersih dan putih” karena seorang pemimpin identik dengan “lumuran darah dan dosa” kepada rakyatnya. Baik Arsid maupun Ikhsan yang kerap mengusung isu pemberantasan korupsi sebagai “jargon” politiknya mesti dicerahkan dan diluruskan. Memberantas korupsi bukan seperti seorang penjual obat di pasar.

Memberantas korupsi mesti dengan sistem dan niat yang lurus dan bersih. Bukan juga turun menyadarkan masyarakat akan bahaya korupsi jelang pilkada semata. Pemimpin tak lahir dari situasi korup dan nepotis. Karena itu merupakan standar utama untuk menjadikan diri “bersih” dan Putih. Tak ada pemimpin yang lahir dari kondisi korup lalu menjadi pemimpin yang bersih dan suci. Jikapun ada mungkin jarang kita lihat.

Rakyat bersepakat bahwa sejak Bung Karno dan Bung Hatta pergi meninggalkan bangsa ini, Indonesia kehilangan teladan kepemimpinan hingga hari ini. Rakyat kehilangan pemimpin yang satunya kata dan perbuatan. Hari ini bicara A maka besoknya juga A. Bukan hari ini A besoknya Z.

Rakyat merindukan pemimpin yang mau salah dan siap mengkoreksi kesalahannya di masa lalu dengan sungguh-sungguh. Bukan sekedar tertulis di atas kertas dan pembohongan massal dengan membungkus sekedar menjadi “kontrak politik” atau apapunlah namanya.

Pemimpin dibuktikan dengan kerja, kerja dan kerja. Bukan sekedar permainan retorika dan propaganda “putih dan paham” masalah. Tangsel butuh pemimpin yang mampu membawa kota ini melesat menjadi kota berperadaban dengan meminimalisir pemimpin munafik untuk memimpin warga Tangsel lima tahun kedepan.

Jadi pilihlah pemimpin Tangsel 9 Desember nanti yang bukan hanya jago beretorika soal putih dan paham masalah, tetapi pemimpin yang telah memberikan bukti nyata kepada masyarakat selama ini. (*)

Penulis: Senja Neira
Warga Tangsel, Citizen Jurnalis

Komentar Anda

comments