Pemkot Tangerang Launching 10 Armada BRT Awal Desember 2015

oleh -
Armada Bus Lane di Kota Tangerang, yang akan segera dilengkapi dengan armada BRT. (ist)
Kepala Dishub Kota Tangerang, Engkos Zarkasyi. (bbs)
Kepala Dishub Kota Tangerang, Engkos Zarkasyi. (bbs)

TANGERANG- Warga Kota Tangerang, akhirnya bisa merasakan moda angkutan umum massal yang nyaman, aman dan cepat dalam waktu dekat ini. Pasalnya, awal Desember 2015, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang, berencana meluncurkan 10 armada Bus Rapid Transit (BRT) yang akan melayani koridor Terminal Poris Plawad – Jatiuwung.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang, Engkos Zarkasyi mengatakan bahwa Bus Rapid Transit atau disingkat BRT adalah sebuah sistem bus yang cepat, nyaman, aman dan tepat baik dari segi waktu infrastruktur kendaraan serta jadwal. Network BRT katanya, bisa melayani market tertentu (semua penumpang) dengan mengangkut penumpang dari lokasi sekarang menuju tujuan mereka dengan frekuensi tinggi dan waktu yang lebih cepat. “Untuk tahap awal kami akan ujicoba untuk rute Terminal Poris Plawad – Jatiuwung,” ujar Engkos.

Dijelaskannya, penyediaan transportasi massal ini merupakan sebuah kewajiban. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Angkutan Jalan, Bab ke-III Bagian ke-satu Pasal 15 butir 3 yang menyebutkan bahwa Pemerintah daerah kabupaten dan kota wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/barang dalam wilayah kabupaten/kota.

“Dengan adanya aturan tersebut, maka sudah jadi kewajiban setiap pemerintah daerah untuk melaksanakannya. Selain itu, keberadaan BRT ini juga merupakan salah satu upaya Pemkot Tangerang untuk mengurangi tingkat kemacetan serta menyediakan angkutan umum yang representatif bagi warga,” tuturnya.

Selain itu, kata Engkos, salah satu faktor yang menjadi alasan Pemkot meluncurkan BRT yaitu, melihat laju pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat sebesar 10 persen setiap tahunnya, sedangkan peningkatan atau penambahan ruas jalan hanya satu persen. Hal ini tentunya, kalau tidak segera diantisipasi, maka dalam 10 tahun ke depan kondisi lalu lintas di Kota Tangerang akan sangat semrawut. “Untuk armada BRT,  sendiri nantinya akan menggunakan bus ukuran sedang dengan kapasitas 40 orang, serta direncanakan akan menggunakan sistem e-Ticketing,” jelasnya.

BRT di Kota Tangerang untuk Rute Terminal Poris Plawad- Jatiuwung ini kata mantan Camat Pinang iitu dijadwalkan akan melalui Jalan Benteng Betawi, Jalan Sudirman, Daan Mogot, Taman Makam Pahlawan Taruna, Jalan Ahmad Yani, Jalan Merdeka, Simpang Otista dan Jalan Gatot Subroto.

“Pengadaan bus tengah berjalan. Saat ini kita fokus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pengemudi angkutan. Selanjutnya, pembangunan halte akan dimulai dalam waktu dekat,” jelasnya.

Masih kata Engkos, dengan tersedianya BRT, dirinya juga berharap dapat merubah perilaku berkendara masyarakat Kota Tangerang menjadi lebih disiplin dan tertib aturan dan beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. “Tingkat budaya sebuah bangsa itu bisa dilihat dari tertib atau tidak warganya dalam berlalu lintas,” tegasnya.

Sementara itu menurut Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Tangerang, Ismu Hartono. Untuk mendukung operasional BRT ini pihaknya akan membangun sebanyak 20 unit halte untuk satu koridor yang membutuhkan anggaran setidaknya Rp12 miliar.

Lebih lanjut Ismu menjelaskan, adanya BRT diharapkan dapat mengakomodasi pengguna mobil pribadi dan motor di sepanjang jalur Poris Plawad – Jatiuwung. Kepadatan lalu lintas di kawasan itu diperkirakan akan terurai dengan adanya BRT. “Kami juga akan kordinasi dengan Organda serta melibatkan para pengusaha angkutan umum di Kota Tangerang, sehingga keberadaan BRT tidak membuat, para pengemudi angkot yang selama ini melayani rute tersebut tersaingi dan tersingkir,” ujarnya.

Meski demikian, Dishub juga mengakui adanya kritikan dari pengusaha angkutan. Pengusaha dan sopir angkot T01 adalah pihak yang paling banyak bersinggungan dengan operasional BRT ke depannya. “Rata-rata yang dikeluhkan para sopir angkot adalah kekhawatiran matinya sumber mata pencaharian mereka. Ke depannya, sopir angkot akan diajak bekerja sama dalam operasional BRT,” tandasnya.

Armada Bus Lane di Kota Tangerang, yang akan segera dilengkapi dengan armada BRT. (ist)
Armada Bus Lane di Kota Tangerang, yang akan segera dilengkapi dengan armada BRT. (ist)

Sementara itu sebelumnya, Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah mengatakan bahwa pihaknya mencoba mengalihkan penggunaan sepeda motor ke BRT. Karena, BRT ini berbeda dengan Bus Lane dan hanya beroperasi di dalam kota. Pemkot Tangerang berencana menempatkan 10 trayek BRT, dimana setiap trayek ada 16 unit bus yang beroperasi. “BRT ini seukuran Kopaja. Jika satu unit BRT seharga Rp 500 juta, maka total anggaran yang dikeluarkan Pemkot Tangerang sekitar Rp 80 miliar,” jelasnya.

Namun, kata Arief, Pemkot punya tugas berat untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk beralih dari sepeda motor ke BRT. Belum lagi harus bersaing dengan 2800 unit angkutan kota (Angkot) yang beroperasi di dalam atau melintasi Kota Tangerang.

“Masyarakat berpikir naik motor lebih irit dan cepat, beli bensin empat liter bisa untuk dua sampai tiga hari. Tapi masalahnya juga mereka menambah kemacetan. Jadi kita perlu sosialisasi dan edukasikan ini,” pungkasnya. (adv)

Komentar Anda

comments