Pemilih Tangsel Masih Tradisional

oleh -
Airin dan Ben saat daftar di KPU Tangsel. (one)
Airin dan Ben saat daftar di KPU Tangsel. (one)

Palapa News- Pemilih Tangerang Selatan (Tangsel) diyakini masih berpola tradisional, tidak seluruhnya bisa dikatakan sebagai pemilih rasional. Alasannya, karena di sejumlah wilayah di kota itu, masih dipengaruhi oleh peran tokoh agama, masyarakat dan pemuda.

Berbeda dengan pemilih rasional, yang cenderung telah memiliki sikap independen dalam menentukan pilihannya, pada momentum Pilkada Tangsel 9 Desember 2015 mendatang.

“Ketika masih ada keterlibatan tokoh-tokoh tersebut, maka masyarakat Tangsel masih bisa dikatakan tradisional,” kata Sonny Majid, penggiat muda Nahdlatul Ulama (NU) di Serpong, Selasa (11/8/2015).

Artinya, lanjut dia, masih ada beberapa wilayah di Tangsel masyarakatnya menaruhkan harapan atau kepentingan pada para tokoh-tokoh setempat. Tokoh-tokoh tersebut dianggap sebagai mediator sekaligus fasilitator.

Pemilih rasional dikatakan Sonny Majid, yang juga tenaga pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang (Unpam) ini, masih teriris di sejumlah wilayah di Tangsel, seperti Pamulang, Ciputat dan Ciputat Timur.

“Itu pun tidak sepenuhnya, karena banyak tokoh-tokoh di tiga kecamatan itu, sangat berpengaruh terhadap pemilih,” tandasnya. Pemilih rasional justru lebih dominan di wilayah perumahan.

Dengan kondisi demikian, ia berpendapat, pada Pilkada Tangsel mendatang, justru kandidat yang akan bertarung adalah pasangan Airin Rahcmy Diani-Benyamin Davnie dan Arsid-Elvier Arya Diannie. Pertama, karena dua pasangan tersebut memenuhi unsur birokrasi, yang dianggap paham tentang kondisi lokal Tangsel, ditambah lagi dengan relasi sosial yang sudah terbangun lama.

Ditanya tentang peluang Ikhsan Modjo-Li Claudia Chandra, Sonny katakan, bahwa pasangan ini setidaknya mampu meraup perolehan suara dari kalangan komunitas Tionghoa dan pemilih rasional yang persentasinya relatif belum terlalu banyak di Tangsel.

“Yang perlu kita ingat, pemilih perempuan di Tangsel angkanya tinggi. Pemilih perempuan tersebut, saya prediksi akan diperebutkan tiga pasangan tersebut. Meskipun secara relasi sosial, Airin sebagai kandidat sudah membangunnya lama. Sementara Arsid kemungkinan akan menggunakan sebagian mesin birokrat, karena Arsid sebagai birokrat pernah bertugas di Tangsel,” tandasnya.

Disinggung mengenai Ikhsan Modjo bisa menjadi kuda hitam, Ia katakan, “bisa iya bisa juga tidak.”

Indikator pertama yang bisa digunakan adalah perolehan suara masing-masing partai. “Kita hitung saja berapa perolehan masing-masing partai yang mengusung para kandidat tersebut.” (one)

Komentar Anda

comments