Palapanews.com- Memasuki musim penghujan, volume sampah yang terbawa arus di Sungai Cisadane, Kota Tangerang mengalami peningkatan.
Sampah itu mengalir dari hulu ke arah hilir. Beberapa sampah berupa kayu dan sampah domestik seperti plastik memenuhi sungai tersebut.
Salah seorang warga Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Jaya mengaku sampah lebih banyak saat memasuki musim hujan. Sejak awal tahun 2019, sampah datang silih berganti tanpa henti.
“Banyak. Musim hujan ini lebih banyak datangnya,” katanya, Selasa, 29 Januari 2019.
Meski begitu, lanjutnya, setiap hari petugas kebersihan rutin mengumpulkan sampah dari sungai. Namun, upaya itu dinilai tak berdampak banyak. Pasalnya, sampah selalu saja datang. “Sudah dibersihin ada lagi, ada lagi,” ucapnya.
Sebagai warga, ia tentu ingin sungai yang mengalir di samping tempat tinggalnya itu bersih. Pasalnya, jika air meluap dan banyak sampah, akan tercium bau tidak sedap dari sungai. “Bau amis kalau banyak sampah,” lanjutnya.
Meski begitu, menurut Jaya, banyaknya sampah di Sungai Cisadane justru membuat ikan berkumpul. Karena itu, saat musim hujan banyak pemancing yang datang ke tepi Sungai Cisadane.
“Banyak ikan sih, tapi ya enggak enak dilihat,” katanya.
Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Indri Suryani mengatakan, dalam sehari sampah yang diangkut dari Sungai Cisadane yang melintas di wilayah Kota Tangerang rata-rata mencapai 6 meter kubik atau setara dengan satu truk sampah. Namun, ketika memasuki musim hujan, volume sampah dapat meningkat hingga 10 kali lipat.
“Kemarin, waktu pengangkutan sampah bersama Wali Kota, truk sampah 10 kali bolak-balik,” jelas Indri.
Indri mengatakan, penanganan sampah di Sungai Cisadane memang salah satu prioritas utama Pemerintah Kota Tangerang. Karena itu, ia menambahkan, Dinas PUPR rutin melakukan pengangkutan sampah setiap hari dari di sungai yang berhulu di Bogor, Jawa Barat itu.
Dalam pembersihan, Dinas PUPR mengerahkan dua unit perahu untuk mengangkut sampah. Sampah yang sudah diangkat ke daratan akan segera dibawa ke tempat pembuangan.
Indri mengaku, Dinas PUPR kerap kewalahan melakukan pengangkatan sampah ketika musim hujan. Pasalnya, saat curah hujan meningkat, tinggi muka air juga menungkat. Akibatnya, sampah akan lebih banyak yang datang. Menurutnya, 60 persen merupakan sampah domestik.
Indri menambahkan, Dinas PUPR belum tahu titik-titik mana yang menjadi sumber sampah di Sungai Cisadane. Namun, sepanjang bantaran sungai terdiri dari berbagai macam area, seperti permukiman dan industri.
“Jadi tidak bisa disalahkan satu pihak. Semua ikut andil. Kadang juga ketika air tinggi, tanaman di bantaran juga terbawa arus. Kota Tangerang yang merupakan wilayah hilir, kita menerima sampahnya,” paparnya.
Indri berharap, semakin lama Sungai Cisadane akan menjadi lebih bersih. Lanjutnya, mimpi itu merupakan harapan semua masyarakat. Sebagai pelayanan masyarakat, baik dari Pemerintah Kota dan pemerintah pusat sudah berupaya memperbaiki.
“Memang klise, tapi saya pikir banyak orang belum paham. Untuk mengubah itu memang mesti dari diri sendiri. Semua sudah tahu caranya, tapi perilaku itu harus dijadikan budaya,” katanya.(rik)
