Palapanews.com- Mahasiswa Studi S1 Kebidanan Program Sarjana Universitas Yatsi Madani menggelar kegiatan edukasi anti-bullying di SMKN 9 Kota Tangerang, Selasa, 9 Desember 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya perundungan serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan sehat secara mental.
Edukasi tersebut dilaksanakan oleh Alya Rahmadani, Siti Aulia Ainul Yaqin, Nasywa Kesya Fadhilah, Lina Aprita Jahra, dan Maryati, dengan didampingi dosen pengampu Eva Marsepa. Para mahasiswa memberikan pemaparan mengenai bentuk-bentuk bullying, dampaknya terhadap kesehatan mental remaja, serta pentingnya empati dan saling menghargai di lingkungan sekolah.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa bullying dapat berupa kekerasan verbal, fisik, maupun psikologis, seperti mengejek, merendahkan, mengucilkan, pelecehan seksual, hingga kekerasan fisik. Tindakan tersebut berpotensi menimbulkan trauma, depresi, gangguan kecemasan, hingga masalah mental jangka panjang bagi korban.
Data Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang 2025 terdapat 2.621 laporan perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), dengan 620 kasus masuk kategori bullying. Data tersebut menunjukkan bahwa perundungan masih menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan.
Faktor pemicu bullying antara lain pengaruh lingkungan pergaulan, pola asuh keluarga yang kurang tepat, kurangnya empati, keinginan untuk berkuasa atau dianggap populer, hingga minimnya edukasi tentang dampak perundungan. Selain merugikan korban, bullying juga berdampak negatif terhadap pelaku, terutama dari sisi psikologis.
Kepala SMKN 9 Kota Tangerang, Jafar Wahid, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan edukasi tersebut. Ia menilai program anti-bullying penting untuk menekan angka perundungan di lingkungan sekolah, khususnya di wilayah Provinsi Banten.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa dapat memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung optimal tanpa rasa takut maupun tekanan psikologis. (ydh)
