Pilkada Tangsel: Benyamin Masih Pimpin Klasemen, Azizah Leading

oleh -
Sonny Majid. Foto: Dok

Palapanews.com- Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) masuk kategori kelas seksi. Hal ini lantaran Pilkada Tangsel ini diidentikan dengan pertarungan dinasti politik. Ada Pilar Saga Ichsan mewakili klan Rau (Ratu Atut), Rahayu Saraswati klan Prabowo dan Siti Nur Azizah klan Ma’ruf Amin.

Pilkada serantak tahun ini memang berbeda dengan yang lain. Karena bersamaan dengan merebaknya pandemik covid-19. Dan ironisnya pandemik corona ini sampai sekarang masih menjadi topik nasional, bahkan internasional. Sehingga isu-isu lain di luar itu, bisa dianggap sebagai split hanya menjadi isu penjeda.

Untuk itulah pelaksanaan pilkada kali ini sangat ditentukan oleh kecakapan tim media yang membombardir narasi-narasi kandidatnya kepada publik pemilih.

Sebenarnya kondisi pandemik ini sangat menguntungkan pasangan petahana. Karena hanya petahana yang menguasai infrastruktur – instrumen pemenangan, khususnya yang menyangkut jejaring logistik dan simpul masyarakat. Isu pandemik bisa “dimanfaatkan” untuk meredam perlawanan.

Anda bisa bayangkan, jika salah satu petahana melakukan sosialisasi terbatas, kemudian sebelum acara dimulai, secara tiba-tiba beredar sebuah pesan lewat whatsapp yang isinya di sana ada yang terjangkit covid, atau tempat tersebut menjadi kluster, sudah pasti para peserta sosialisasi tidak akan hadir dalam pertemuan tersebut.

Belum lagi, setelah salah satu calon melakukan pertemuan terbatas, tiba-tiba esoknya beredar bahwa salah satu peserta yang ikut dalam pertemuan terbatas itu positif covid. Padahal bisa jadi informasi itu bohong – hoaks hanya untuk menggagalkan pertemuan itu ataupun meminimalisir ruang gerak kandidat lawan.

Apapun hari ini yang dikampanyekan oleh masing-masing calon, bahwa melarang para pendukungnya untuk kampanye negatif maupun kampanye hitam, hanyalah sebatas gimik. Nyatanya, dalam sepanjang pilkada, kampanye hitam maupun kampanye negatif terjadi, terlebih menjelang detik-detik hari pemungutan suara.

Belum saja kita mendengar pelarangan kampanye hitam dan kampanye negatif, pada Pilkada Tangsel sudah terjadi kasus “paha mulus” yang menerpa kandidat wakil Saras yang dilakukan oleh politisi partai. Isu ini akhirnya terus bergulir. Dalam konteks hukum, memang ini menjadi bentuk pelecehan kepada perempuan yang oleh undang-undang sudah diatur perlindungannya, terlebih dalam hak politik. Namun dilihat dari kacamata strategi politik, isu ini justru bisa menjadi gimik. Terlepas secara tersirat atau tersurat.

Dari gambaran di atas, maka sebenarnya kita bisa menarik pendapat, alangkah bodohnya jika ada seorang politisi ataupun tim sukses menggunakan isu kampanye hitam atau kampanye negatif karena bisa dimanfaatkan langsung oleh lawan yang diserang. Atau jangan-jangan sebenarnya mereka sudah berkongsi, untuk menaikkan rating salah satu calon. Bisa saja.

Kita kembali ke masalah covid. Situasi ini sebenarnya memaksa para kandidat di luar petahana memutar otak. Seperti diawal saya katakan, bahwa petahana memiliki akses yang lebih luas di tengah pandemik ini. Misalnya kita ambil contoh soal bansos yang sudah banyak diulas pengamat. Bansos pandemik bisa “disalahgunakan” – “dimanfaatkan” oleh petahana menggunakan jalur-jalur uang negara. Sementara kandidat lain di luar petahana, setidaknya harus mengeluarkan kocek lebih banyak untuk memberikan bansos-bansos kepada pemilih.

Jadi wajar, bisa dipastikan, para kandidat petahana masih pada berada di posisi puncak. Kalau tidak percaya silahkan cek hasil survei para lembaga-lembaga survei. Petahana juga diuntungkan oleh keputusan KPU yang tidak mewajibkan cuti bagi calon petahana. Artinya, kita pasti tahu lah, calon petahana masih sangat terbuka lebar menggunakan akses yang dimilikinya.

Untuk itu bisa diyakini untuk di Tangsel, bahwa pasangan Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan masih memimpin klasemen. Sedangkan pasangan Muhammad- Saras dan Azizah-Ruhamaben masih harus mengemas isu untuk mendongkrak elektabilitas. Loh kok bukan popularitas, karena tiga pasangan calon itu sudah tak perlu lagi diukur popularitasnya karena terdongkrak oleh faktor politik yang lain seperti nama besar tokoh-tokoh politik nasional.

Hanya saja dalam kasus Pilkada Tangsel, sebenarnya yang leading adalah pasangan Azizah-Ruhamaben. Selama pasangan ini tak berbenturan dengan perseteruan pasangan Ben-Pilar dengan Muhammad-Saras. Maksudnya disini tidak terjebak pada ritme skema politik kedua pasangan tersebut. Pasangan Azizah-Ruhamaben masih menjadi “kuda hitam” di tengah klimaksnya kejenuhan masyarakat Tangsel yang sudah dua periode merasakan kepemimpinan Airin Rachmi Diany. Pasangan Azizah-Ruhamaben sepertinya memilih bergerak senyap.

Meski sebenarnya agak disayangkan muncul kasus “paha mulus” yang dilontarkan oleh salah satu politisi partai pendukung pasangan Azizah-Ruhamaben. Insiden tersebut menjadi blunder, karena di lain sisi ketika Azizah menyuarakan soal perubahan dan diharapkan menjadi “kuda hitam”, justru politisi dari salah satu partai pengusungnya melontarkan kalimat itu kepada calon lain (Saraswati). Dan yang mungkin dilupa, bahwa Azizah adalah juga figur calon walikota perempuan satu-satunya dalam Pilkada Tangsel. Ini akan sedikit berefek kepada pasangan Azizah-Ruhamaben.

Pemilih Tangsel tak bisa diikat secara ideologis

Meski rekam jejak mencatat, bahwa pemilih di Tangsel tidak bisa diikat secara ideologis, karena masyarakat Tangsel merupakan kombinasi tradisional – modern atau dalam artian sudah urban. Biasanya di kalangan masyarakat yang sudah kombinasi tersebut hanya bisa diikaat dengan dua kekuatan, pertama kekuatan gagasan/narasi masing-masing kandidat, dan kedua adalah ikatan pragmatis.

Pemilih ideologis, hanya bisa dikelompokkan dari suara perolehan masing-masing partai politik. Ini menjadi tolak ukur sementara untuk menghitung perolehan suara yang diprediksi akan konsisten.

Makanya, sebelum ini pernah saya ungkapkan para kandidat di luar petahana jika tim pemenangannya gegabah dalam menentukan strategi pemenangan, bisa dipastikan akan kalah. Terlebih di situasi pandemik sekarang ini.

Inilah yang oleh rekan saya dari Universitas Indonesia (UI) sebagai “emergency politics,” – lawan sebenarnya adalah covid-19 bukan antar-calon. (*)

Oleh: Sonny Majid, Penggiat Kajian Politik

Komentar Anda

comments