Guru Besar Unpad : Hoaks Tersebar Karena Rendahnya Literasi

oleh -

Palapanews.com – Menyebarkan atau mempercayai hoaks itu adalah karakter. Untuk merubahnya, harus dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Kata kuncinya adalah literasi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Deddy Mulyana, Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Dalam sebuah penelitian, lanjutnya, orang Indonesia hanya membaca 27 halaman per tahun.

“Ranking minat baca masyarakat kita menempati urutan ke-60 di dunia,” katanya di acara Penandatanganan MoU Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) di Jakarta (22/10/2019).

Menurut Deddy karakter masyarakat yang suka menyebar hoaks bisa dilihat dari sudut pandang komunikasi budaya. Masyarakat Indonesia senang bercerita dan bersifat kolektivisme atau cenderung hidup berkelompok daripada individu.

Terkait MoU, dia berpendapat bahwa langkah BPOM tersebut merupakan awal yang baik dalam mengedukasi masyarakat untuk memiliki daya kritis terhadap berita apapun. Tujuannya meminimalisir bahaya berita palsu (hoaks) yang beredar di media sosial terutama yang berkaitan dengan kesehatan.

Sementara Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugoro di tempat terpisah mengungkapkan bahwa hoaks tidak saja menjadi permasalahan di Indonesia namun juga di dunia. Setiap bulan ada 60 – 100 hoaks yang tercatata oleh Mafindo dengan tema paling besar adalah politik, disusul agama dan kesehatan.

“Pada tahun 2018, ada enam persen hoaks yang terkait isu obat dan kesehatan. Meski jumlahnya kecil, namun tidak bisa dianggap ringan. Karena hoaks-hoaks terkait kesehatan bisa menimbulkan kepanikan di masyarakat,” katanya.

Septiaji mencontohkan seperti mie instan yang dicampur coklat bisa berbahaya bagi kesehatan, permen yang mengandung narkoba, makanan kaleng yang terjangkiti virus HIV dan sebagainya. Hoaks ini sudah beredar luas di masyarakat dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran.

“Kami memiliki 500 relawan dari 17 kota, termasuk di antarnya adalah alumni dari BPOM. Bersama-sama kita meredam hoaks dan mengedukasi publik. Kolaborasi ini bisa memperkuat ekosistem kita yang memang sudah terbaik di Asia,” pungkasnya. (ab/bd)

Komentar Anda

comments