Maju Pilkada, Pengusaha Sampah Ini Ingin Tangsel Bersih seperti Singapura

oleh -
Kemal Pasya. Foto: Nad

Palapanews.com- Sebagai mantan Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kota Tangsel yang kesehariannya menggeluti persampahan, Kemal Pasya yang akan maju dalam Pilkada Tangsel 2020 ingin membentuk Kota Tangsel ‘Bersih’ Tangsel, sebersih Singapura.

Masalah sampah sudah sangat darurat di seluruh kota-kota yang ada di Indonesia dan kota Tangsel salah satu yang tak luput dari persampahan tersebut.

Bukan hanya membereskan soal sampah yang sudah darurat di Tangsel. Namun di dalam misi strategisnya, Kemal pun ingin membereskan permasalahan banjir di beberapa titik kota dan mencegah terjadinya kekerasan dan tawuran antar pelajar.

“Untuk menuntaskan masalah sampah, mari kita ingat kembali gambaran tentang seperti apa kondisi KRL kita 10-15 tahun yang lalu. Kondisinya yang sangat semrawut, kemudian kini berubah total menjadi commuterline yg sangat rapi, bagus, bersih, aman, dan tepat waktu. Itu sebuah gambaran suksesnya sebuah sistem manajemen,” bebernya di Kantor Abu n Co BSD, Serpong, Kamis (3/10/2019).

Bila penataan commuter bisa sukses dan berhasil, maka masalah sampahpun harus bisa dituntaskan. Berarti mimpi Tangsel sebersih Singapura dapat diwujudkan dan itu adalah sebuah keniscayaan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka yang paling utama adalah komitmen yang sangat kuat dari seorang walikota yang dan harus dilaksanakan dalam 6 aspek manajemen persampahan, yakni Komitmen Pembiayaan, Manajemen Tata laksanakan, SDM dan Teknologi, Penegakan Hukum yang kuat, Kontrol Sosial dan Sistem pelaporan yang berbasis Digital dan Pembangunan Budaya Bersih sejak usia dini.

Menurutnya, kunci utama untuk suksesnya seorang walikota dalam mekaksanakan 6 aspek sukses pengelolaan sampah kota seperti tersebut diatas adalah keberaniannya untuk menyiapkan anggaran sebesar Rp350 miliar per tahun.

Menurutnya, anggaran sebesar itu dialokasikan hanya untuk 3 atau 4 tahun saja, dan itu sebuah invesatasi jangka panjang buat Kota Tangsel. Setelah semua sistem berjalan baik, maka warga baru dikenakan pembayaran restribusi sampah.

“Konsepnya menanam dulu baru petik hasilnya. Dengan membangun dulu kepercayaan warga Tangsel. Barulah seluruh warga akan berpartisipasi dan mendukung. Saya siap untuk mempresentasikan serta menjelaskannya secara detil kepada masyarakat atau pun para pihak yang terkait, Tentunya ide, saran-saran dan kritik akan menjadi masukan yang bagus dalam memperbaiki sebuah sistem,” tandasnya. (nad)

Komentar Anda

comments