“Saat Ini Pendongeng Semakin Langka”

oleh
Kang Budi sedang mendongeng di hadpan siswa MTs dan MA Al Mansyuriyah Kanza, Kabupaten Tangerang.
Kang Budi sedang mendongeng di hadpan siswa MTs dan MA Al Mansyuriyah Kanza, Kabupaten Tangerang.

Palapanews.com- Suntikan pengetahuan didapat puluhan siswa-siswi keluarga buruh kawasan pabrik Akong, yang sedang sekolah di MTs dan MA Al Mansyuriyah Kanza, Kampung Grudug, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Jumat (6/10/2017) lalu. Mereka mendapat pengetahuan melalui dongeng yang dibawakan Kang Budi Sabarudin.

Sekolah itu berada di kawasan pabrik Akong dan diikelilingi begitu banyak pabrik. Karena itu, sebagian besar orang tua siswa bekerja di pabrik-pabrik tersebut. Bahkan banyak orang tua yang berharap anak-anaknya kelak bisa bekerja di pabrik dan tidak perlu meneruskan kuliah.

Dewi, salah satu guru di sekolah itu, mengatakan lahan dan bangunan sekolah itu pernah ditawar pengusaha beberapa kali untuk dijadikan pabrik.

Namun tidak dilepas pemiliknya, karena sekolah ini menjadi bagian dari idealisme untuk membangun sumber daya manusia di kawasan pabrik Akong.

Menurut Dewi, memotivasi anak-anak di sekolah ini agar kelak meneruskan kuliah memang tidak mudah, karena kebanyakannya orientasi mereka setelah lulus sekolah bekerja di pabrik.

Tapi Dewi akan terus mendorong agar mereka meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, seperti di STISNU Nusantara yang kampusnya di Cikokol, Kota Tangerang. Kuliah di sana murah.

H Abdul Kholik, pemilik sekolah tersebut, menjelaskan saat ini pihaknya sedang membangun fisik sekolahnya. “Kami sedang membangun beberapa lokal. Nanti satu lokal akan saya gunakan untuk taman bacaan atau perpustakaan,” paparnya.

Terkait dengan dongeng yang dibawakan Kang Budi, menurut Kholik para pendongeng memang sudah langka saat ini.

Karena itu, dongeng harus terus dilestarikan seperti disosialisasikan kembali ke sekolah-sekolah. “Saya lihat siswa kami betul-betul terhibur oleh dongeng Kang Budi,” ungkapnya.

Sang pendongeng, Budi Sabarudin yang biasa dipanggil Kang Budi, mendongeng di salah satu kelas yang dikosongkan dan sebagian meja serta kursi kelasnya ditumpuk dan di pinggirkan.

Para siswa duduk santai, lesehan, dan membentuk huruf “u”, seperti penonton dalam teater-teater tradisi.

“Para siswa atau anak-anak dari kalangan keluarga buruh itu memang target dan obsesi saya. Artinya, mereka adalah salah satu segmen penonton yang harus saya kunjungi dalam program Dongeng Keliling,” kata Kang Budi.

St Parwanti, siswi di sekolah tersebut, mengaku sangat terhibur dengan dongeng fabel yang dibawakan Kang Budi dengan penuh semangat. “Ceritanya lucu. Kawan-kawan saya juga bisa tertawa. Pendongengnya ekspresif,” terangnya.

Diinformasikan, Kang Budi akhir-akhir ini sedang menjalankan program Dongeng Keliling ke sekolah, panti asuhan, taman baca masyarakat, pesantren, lembaga pemasyarakatan, dan kampung-kampung dengan bendera Dongeng Center Tangerang.

Dongeng Keliling itu sebagai gerakan literasi yang dilakukan dirinya secara sendiri dan mandiri. “Saya sedang menyebarkan virus kepada kalangan siswa agat membangun budaya baca dan menulis serta merawat dongeng,” pungkasnya. (red)

Komentar Anda

comments