Siapa Pahlawan Sesungguhnya?

Diterbitkan  Jumat, 11 / 11 / 2016 6:00

Idrus Steven Maulana.

Idrus Steven Maulana.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”

(Pidato Bung Karno dalam Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961)

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa bersejarah dimana perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah  Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Perjuangan 10 November 1945 tersebut setidaknya mengakibatkan 6.000 – 16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara.  Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Apa yang bisa kita perbuat?
Dari sejarah 10 November 1945 tersebut di paragraf sebelumnya, setidaknya kita bisa mengetahui betapa beratnya perjuangan pendahulu kita demi Negara ini. mereka rela mengorbankan jiwa dan raganya demi Negara ini.

Nah, Setelah kita mengetahui tentang hari bersejarah yaitu hari pahlawan (10 November 1945), kemudian muncul pertanyaan. Apa yang akan kita perbuat dengan mengetahui peristiwa berdarah tersebut? Apakah kita akan menghancurkan negara ini dengan hanya beralasan perselisih pendapat, budaya, agama dan apapun alasan yg mengarah kepada perpecahan.. apakah dengan hanya kepentingan satu kelompok penghianatan terhadap para pahlawan akan diwariskan kepada penerus bangsa? Penghianatan terhadap ketentraman,penghianatan yg akan terus terjadi jika satu kepentingan belum ada yg menguntungkan. Atau kita cukup memperingati hari tersebut dengan hal-hal yang sifatnya ceremony saja? Tentu tidak.

Sudah saatnya negara lebih berpihak dan memperhatikan mereka tidak hanya memperingati Hari Pahlawan dan heningkan cipta. Kita sebagai generasi muda patut berterima kasih atas perjuangan mereka yang tanpa pamrih. Para pahlawan tidak pernah berharap bahwa 10 November akan dijadikan sebagai hari pahlawan yang kemudian  diperingati setiap tahunnya. Akan tetapi, mereka hanya ingin Negara ini bebas dari para penjajah dan demi terciptanya Negara yang aman, tentram dan sejahtera. Jiwa kepahlawanan mereka sudah sepantasnya memberi inspirasi dalam mengisi kemerdekaan ini. Bukannya malah semakin memudar tergilas oleh zaman.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Bagaimanapun, perjuangan mereka yang tak kenal lelah diiringi air mata dan darah. Hasilnya sudah dapat kita rasakan sekarang ini. Pahlawan kita terbukti telah mampu mengusir kebengisan penjajah Belanda yang berkuasa selama 350 tahun dan Jepang selama 3,5 tahun.

Kini, zaman telah berganti. Kepahlawanan tidak diukur hanya dengan senjata atau bambu runcing, bukan lagi mengusir penjajah bangsa asing. Karena hari ini lawan kita bukan lagi penjajah dari Negara lain melaikan penjajah di negara kita sendiri. Pemerintah hari ini tidak mampu merealisasikan harapan-harapan dari para pahlawan kita. Pemerintah tidak mampu manangani masalah kebodohan, kemiskinan, dan keterpurukan di segala bidang. Siapa yg akan menjadi pahlawan sesungguh nya ? Pahlawan yg mampu mensejahterakan rakyat,,pahlawan yg sigap menyelesaikan permasalahan,,bukan menambahkan masalah untuk rakyat.

Perlu juga  disepakati bahwa pahlawan akan terus lahir sesuai zamannya. Untuk saat ini, yang sangat dibutuhkan adalah orang-orang tidak korup (jujur). Kita jugalah yang akan membawa bangsa Indonesia lepas dari keterpurukan. Kita harus memiliki jiwa ksatria, berkorban, dan tanpa pamrih untuk membangun bangsa yang terhormat dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia ini.

Tengoklah berapa juta massa rakyat Indonesia yang terbelenggu dalam kemiskinan, mereka yang tidak mampu sekolah, pengangguran yang menumpuk, petani yang dirampas tanahnya, buruh dengan gaji rendah, belum lagi kanker korupsi yang masih menjamur di tubuh birokrasi negeri ini. Tan Malaka membuat sebuah illustrasi yang menyedihkan tentang keadaan rakyat. Sebuah kenyataan yang ditulis puluhan tahun lampau namun masih dekat dengan kenyataan yang sekarang kita alami: Beberapa juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan ‘pagi makan, petang tidak’. Mereka tidak bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Kekuasaan atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan barang perdagangan, kini semuanya dipusatkan dalam tangan beberapa sindikat…demikianlah rakyat Indonesia tambah lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa(malahan kerapkali diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal…

Hal inilah yang secara kongkrit harus kita jawab bersama. Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pahlawan-pahlawan baru untuk mewujudkan kehidupan massa rakyat yang demokratis secara politik, adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, dan partisipatif secara budaya. (*)

Penulis: Idrus Steven Maulana, Eks ketua umum PMII STISNU Tangerang

Komentar Anda

comments